Pendemo Nyaris Bentrok Dengan Polisi

Massa saat sedang mencari oknum polisi yang diduga melakukan pengancaman. KORANKITO/DHIA

Lubuklinggau- Puluhan massa yang tergabung dalam Gerakan Masyarakat Penegak Keadilan (Gemapeka) Desa Lawang Agung, Kabupaten Musi Rawas Utara (Muratara) nyaris terlibat bentrok dengan petugas kepolisian yang berjaga di halaman Pengadilan Negeri (PN) Kota Lubuklinggau, Senin (5/6) sekitar pukul 11.00.

Diduga keributan itu terjadi, lantaran salah satu oknum kepolisian diduga mengancam seorang pengunjuk rasa dengan cara hendak menembaknya. Darisitulah massa yang tersulut emosinya langsung melakukan pencarian terhadap oknum polisi tersebut.

Beruntung keributan itu cepat diredam oleh kedua belah pihak, sehingga bentrok tak sempat meluas. Hingga akhinya, massa yang menuntut terdakwa Erwin yang merupakan terduga pelaku pencabulan dibebaskan ini akhirnya membubarkan diri dengan tertib.

Koordinator aksi Hasbi Nusantara mengatakan bahwa Erwin menjadi korban fitnah dalam kasus pencabulan yang tidak pernah dilakukannya. Menurutnya, dari beberapa proses penyeldikan dan pemeriksaa terdapat kejanggalan.

“‎Selama tiga bulan polisi mencari alat bukti yang cocok, intinya, pengacara yang diberikan kepada terdakwa tidak bagus, karena katanya tadi tergantung pengacara,”ucapnya saat ditemui oleh awak media.

Hasbi juga menyampaikan ada tiga tuntutan Gemapeka yakni pertama mendesak majelis hakim PN Lubuklinggau yang akan membacakan vonis terhadap Erwin untuk dapat memperhatikan fakta fakta persidangan dan berlaku objektif dengan penuh rasa keadilan.

Kedua, mendesak majelis PN Lubuklinggau untuk membebaskan terdakwa dari segala dakwaan dan tuntutan jaksa atas kasus dugaan pencabulan. Mengingat dalam fakta persidangan terindikasi tidak ada satu dasar hukum yang bisa dijadikan landasan atau bukti yang menguatkan kejadian tersebut. Terakhir massa meminta keadilan ditegakkan untuk kemaslahatan umat.

Menyikapi demo ini,‎ Wakil Ketua PN Kota Lubuklinggau Herry Suryawan yang menemui para pengunjukrasa menjelaskan bahwa dalam sebuah kasus‎ tidak mudah penyidik menetapkan seseorang menjadi tersangka, setelah lengkap alat bukti barulah ditetapkan.

“Kemudian polisi melimpahkan berkas ke kejaksaan jika P21, jika berkas belum P21 maka berkas akan dikembalikan, dan akan dicek lagi oleh jaksa, kalau belum lengkap maka diminta untuk dilengkapi,”terang dia.

Kendati adanya tekanan dar massa. Majelis hakim PN Lubuklinggau tetap memvonis terdakwa 10 tahun kurungan penjara. Korankito.com/Dhia/Depe