Hentikan Praktik Pemasungan

Walikota Palembang Harnojoyo menyambangi Saparuddin alias Udin (45) orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) yang di pasung keluarganya, Senin (5/6). Foto/Humas.

Palembang – Walikota Palembang Harnojoyo menyayangkan masih ditemukannya kasus pemasungan orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) di Kota Palembang. Padahal untuk menghindari terjadinya pemasungan, Palembang sudah memiliki rumah sakit khusus untuk Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) Ernaldi Bahar.

 
“Hari ini, kita kembali temukan orang dengan gangguan jiwa yang bernama Saparuddin atau Udin (45) yang terpaksa harus dipasung keluarga, karena kerap melukai warga,” ungkapnya saat mendatangi Udin yang dipasung keluarga di Jalan Ogan, Lorong Bersatu, Kelurahan Bukit Lama usai Safari Subuh, Senin (5/6).
 
Ia menyayangkan meskipun pihak keluarga memiliki alasan kuat untuk melakukan pemasungan. Apalagi, pemasungan yang terjadi pada Saparuddin atau Udin (45) sudah terjadi cukup lama, yakni sejak tahun 2002. Tetap saja, Harnojoyo berharap ada cara medis yang bisa dilakukan tanpa harus memasungnya.
 
“Pernah dilakukan pengobatan dan sempat sembuh, namun kembali lagi mengalami gangguan jiwa dan sempat melukai sang kakak. Karena kekhawatiran itu, keluarga melakukan pemasungan terhadap Udin,” terangnya.
 
Karena itu Pemerintah Kota (Pemkot) Palembang akan membantu pengobatan Udin dengan membawanya ke rumah sakit. Selain itu juga akan dibuatkan satu kamar khusus untuk Udin melakukan aktifitas seperti biasanya. “Udin ini kondisinya sehat hanya jiwanya saja yang terganggu, jadi perlu pengobatan yang rutin,” jelasnya.

Selain itu, Harnojoyo juga meminta pihak Kecamatan dan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) agar melakukan pendataan terkait masih adanya korban pemasungan lainnya di Kota Palembang. Karena berdasarkan informasi, ada beberapa korban pemasungan oleh keluarganya di beberapa wilayah di Palembang.
 
“Kita minta masyarakat dapat saling bahu membahu untuk menghentikan praktik pasung yang justru akan membuat orang yang di pasung semakin parah kondisi kejiwaannya. Kita harap cara-cara pemasungan itu tidak lagi dipakai,” tukasnya.
 
Sementara itu, Mariam ibu Saparudin mengaku senang dengan kedatangan walikota. Ia berharap Pemkot dapat membantu pengobatan Udin yang harus terhenti sebelumnya karena keterbatasan biaya. Dimana sekitar 2015 lalu, Udin sempat dibawa keluarganya untuk mengikuti serangkaian pengobatan di Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Ernaldi Bahar Palembang.
 
Setelah tiga minggu menjalani masa rehabilitasi, Udin dinyatakan sembuh dan bisa menjalani aktifitas seperti yang lainnya. Dua hari pertama, Udin terlihat seperti orang normal pada umumnya. Namun memasuki hari ketiga, sikap tak terkontrol Udin mulai terlihat, bahkan anak bungsu dari sembilan bersaudara ini melukai kakaknya yang berada didalam rumah dengan silet.
 
“Sewaktu belum dipasung, kami selalu ketakutan. Apalagi saya tinggal sendiri, takutnya Udin melakukan hal-hal yang berbahaya,” tuturnya sembari mengatakan, anak kelimanya, Ilyas (47) bersama istrinya yang tinggal didekat rumahnya masih terus membantunya. (korankito.com/raya/amel)