Sodomi Mendominasi Kasus Pencabulan Anak

Kanit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polresta Palembang Ipda Henny Kristianingsih. foto/depe

Palembang – Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polresta Palembang selalu saja menerima laporan yang masuk mengenai kekerasan anak dibawah umur. Sepanjang 2017 ini ada 68 kasus kekerasan terhadap anak dibawah umur yang ditangani PPA Polresta

“Yang paling banyak itu kasus kekerasan terhadap anak. Tapi kasus pencabulan terhadap anak dibawah umur, bisa dikatakan meningkat dari tahun sebelumnya,” ucap Kanit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polresta Palembang Ipda Henny Kristianingsih, Selasa (30/5) siang.

Ia menjelaskan dari 68 laporan tersebut, 28 laporan kasus kekerasan terhadap anak, 24 laporan persetubuhan anak dibawah umur, 10 laporan pencabulan terhadap anak, dan 5 laporan melarikan gadis, serta satu laporan penculikan.

Lebih lanjut, Henny mengatakan, meningkatnya laporan kasus pencabulan dikarenakan masyarakat sudah menyadari jika perlakuan tak senonoh tersebut sudah diatur oleh undang-undang tersendiri.

“Masyarakat sudah menyadari dan paham akan hukum, makanya terus membuat laporan dengan kita. Dan kebanyakan pelaku-pelaku pencabulan terhadap anak dibawah umur dilakukan oleh orang terdekat,” tambahnya.

Menurutnya kasus sodomi juga mendominasi sekitar 40 persen dari total kasus pencabulan terhadap anak dibawah umur. Namun ia tidak mengetahui secara pasti penyebab meningkatnya kasus tersebut.

“Sodomi itu seperti penyakit. Setelah kita melakukan interogasi kepada pelaku sodomi, rata-rata semua pelaku pernah menjadi korban juga semasa kecilnya,” ujar Henny.

Untuk itu, ia menyarankan kepada orangtua yang anaknya menjadi korban sodomi untuk melakukan rehabilitasi bagi anak-anaknya. Hal ini guna mencegah kasus sodomi semakin meningkat.

“Kalau anaknya pernah dicabuli, dianjurkan untuk segera rehabilitasi supaya tak menjadi pelaku di kemudian hari. Namun, semuanya kembali lagi ke orangtuanya,” ucapnya.

Ditambahkan Ketua Komisi Perlindungan Anak Daerah (KPAD) Kota Palembang Ahmad Romi Afriansyah yang mengatakan saat ini belum ada hukuman yang setimpal bagi pelaku kekerasan seksual terhadap anak.

“Padahal hukuman yang mereka terima harus mempunyai efek jera. Sehingga kekerasan terhadap anak dibawah umur dapat diredam. Kita lihat saja, saat ini masih banyak kekerasan pada anak terjadi,” tuturnya.

Seharusnya pemerintah segera menerapkan hukuman kebiri bagi para pelaku kekerasan seksual pada anak. “Kami mendukung hukum kebiri diterapkan, apalagi kita memikirkan masa depan mereka,” terangnya.

Untuk mengatasi kekerasan terhadap anak, pihaknya pun terus melakukan sosialisasi kepada masyarakat terkait kekerasan pada anak.

 

“Itu dilakukan sebagai langkah menyelamatkan masa depan anak. Artinya, peran pemerintah, masyarakat dan orang tua juga sangat penting,” tutup Romi. (korankito.com/depe/amel).