Awal Ramadhan Harga Jengkol Melejit

Ilustrasi/net

MUBA-Awal Ramadhan  harga jengkol di  pasar Induk  di Sungai Lilin. Kabupaten Muba, yang biasa dijual Rp 32 ribu per kilogram melambung
hingga Rp 80 ribu per kilogram, meskipun harga sayur mayur dan bumbu
dapur lainnya terpantau masih normal. Selain harga daging sapi 130 perkilo.

Sejumlah pedagang menuturkan kenaikan harga tersebut terjadi karena bukan musimnya dan menjelang Ramadan harga jengkol yang tetap menjadi makanan favorit warga sebagai lauk untuk berbuka puasa menjadi mahal.

“Kenaikan harga jengkol terjadi karena saat ini bukan musimnya, kalau sedang musimnya pada bulan Agustus sampai Desember biasanya murah.

Terlebih menjelang puasa, permintaan cukup meningkat,” kata Solihin pedagang di Pasar Sungai Lilin, pada wartawan Koran Kito
sabtu(27/05).

Dia menjelaskan, meroketnya harga jengkol membuat penjualan berkurang setiap harianya, biasa dia dan pedagang lain dapat menjual hingga puluhan kilogram, saat ini perhari hanya menjual 6 sampai 8 kilogram.

“Kami biasa mendapat stok dari jambi atau padang, saat ini kami terpaksa mengurangi pembelian, meskipun pemesanan tetap ada,” katanya.

Dinas Perdagangan dan  Perindustria muba,  mengimbau pedagang diwilayah tersebut, agar tidak membeli barang secara berlebihan, untuk
kemudian dijadikan stok karena kebiasaan tersebut dianggap dapat memicu terjadinya lonjakan harga di pasaran menjelang Ramadan dan Idul Fitri.

Kepala Dinas perdagangan dan Perindustrian , Zainal Arifin, mengatakan, pedagang pasar masih terjebak pada kebiasaan berbelanja
kebutuhan dagang secara berlebihan meskipun sepanjang Ramadan pedagang sebaiknya dapat membelanjakan persediaan barang secara efisien.

“Karena takut dan khawatir akan terjadi lonjakan harga, pedagang membeli barang secara besar-besaran, sehingga menyebabkan terjadinya kenaikan harga. Meskipun tujuan mereka baik agar tidak kesulitan mendapatkan stok,” katanya.

Dia menambahkan, kebiasaan memborong dapat menimbulkan anggapan bahwa
permintaan terhadap barang yang dibelanjakan banyak, sehingga tidak menutup kemungkinan distributor atau bandar akan menangkap momen tersebut dan menaikkan harga jual pada pedagang.

“Karena fenomena tersebut besar kemungkinan akan timbul lonjakan harga, sehingga berlanjut ketika di pasaran kenaikan harga akan
membebani konsumen meskipun persediaan barang yang dibutuhkan terpenuhi,” katanya.

Untuk mengantisipasi hal tersebut, pihaknya mengimbau kepala pasar untuk memberikan pemahaman pada pedagang dan konsumen terkait kondisi pasar, termasuk mengkonfirmasikan harga dan ketersediaan barang yang sebenarnya secara detil setiap hari. (Korankito.com/heri/mbam)