Mitos atau Fakta? Ilmu Belut Putih dengan Tumbal Anak-Anak

ilustrasi/net

Belakangan ini ramai diberitakan, tentang seorang pelaku kejahatan memperkosa dan membunuh korbannya seorang anak kecil berusia dibawah sepuluh tahun, dan jenazah korban pun dimasukkan kedalam sebuah karung dan ditinggalkan begitu saja oleh pelaku.  Ramai pula diperbincangkan bahwa si pelaku adalah orang yang sedang mengamalkan sebuah ilmu yang bernama Ilmu belut.  Kemudian masyarakat disekitar pun menjadi khawatir jika anak atau cucunya menjadi salah satu korban yang ditumbalkan oleh si Pelaku.

Kami mencoba untuk menelusuri tentang ilmu belut atau ilmu belut putih, untuk dijadikan sebagai bahan penambah wawasan agar kita tidak terjerat dalam pemahaman yang salah dan akan membuat kita menjadi tak realistis dan bertindak diluar nalar.

Berikut beberapa hal tentang Ilmu belut atau ilmu belut putih yang berhasil kami kumpulkan :

Dijaman penjajahan dulu berkembang cerita dari mulut kemulut bahwa banyak sekali para pejuang kita yang mengamalkan berbagai macam Ilmu kanuragan.  Diantaranya ialah Ilmu Belut atau Ilmu belut putih yang konon khabarnya sangat ampuh untuk menghindarkan diri dari kepungan musuh.  Berdasarkan informasi yang didapatkan, Ilmu ini berasal dari tanah Jawa, akan tetapi adapula yang menyatakan bahwa di tanah Melayu juga berkembang sebuah Ilmu kebatinan yang bernama Ilmu belut putih.

Ilmu belut putih ini  berdasarkan cerita yang berkembang dibeberapa kalangan masyarakat kita, sangat bermanfaat di dalam peperangan membela tanah air. Konon para pejuang kita dulu banyak mengamalkan ajian ini agar selamat dari kejaran dan mampu meloloskan diri dari kepungan serta tawanan musuh dengan selamat.  Namun dijaman kemerdekaan ini, sungguh sangat memprihatinkan karena ajian ini kebanyakan malah dimiliki oleh para maling dan perampok yang mempergunakan ilmu ini sekedar untuk meloloskan diri dari kejaran masyarakat dan polisi.

Menurut berbagai sumber yang kami peroleh, untuk dapat menguasai Ilmu belut putih ini dibutuhkan banyak sekali syarat-syarat dan ritual yang cukup berat, diantaranya Puasa Mutih dan Patigeni, selain itu tidak boleh tidur pada malam tepat  pada weton kelahiran dilanjutkan dengan membaca mantera sebanyak banyaknya dan harus menahan nafas serta dibaca berulang ulang dan sebanyak banyaknya, orang yang mau mengamalkan ini juga tidak boleh tertidur, karena kalau sampai tertidur maka semua ritual dan tahapan harus diulang dari awal kembali.

Namun dari sekian banyak syarat dan ritual yang harus dilakoni, tidak ditemukan adanya syarat berupa tumbal nyawa manusia, sehingga mitos atau cerita yang berkembang belakangan ini yang menyebutkan bahwa untuk menyempurnakan ilmu belut putih harus menumbalkan manusia (anak-anak perempuan) yang masih dibawah umur adalah sebuah hal yang kemungkinan hanyalah untuk menutupi kenyataan bahwa si Pelaku mengidap sebuah penyakit kejiwaan dan mungkin ada hal lain yang menjadi alasan dilakukannya tindak kejahatan memperkosa dan membunuh korban yang notabene masih anak dibawah umur.

Mitos atau fakta, itu semua kembali kepada keyakinan dan keimanan kita sebagai umat beragama. Wallahu’alam bissawab… (korankito.com/berbagaisumber/mbam)