Habis Nenggak Miras, Frengky Aniaya Istri

Tersangka Frengky (27) saat digelandang ke Polsek Ilir Timur (IT) I Palembang. foto/adi

Palembang – naas yang dialami Raniati (22) warga jalan Ariodilah III RT 33 Kelurahan 20 Ilir DIV Kecamatan Ilir Timur I, bukan mendapat perlindungan dari sang suami Frengky (27) malahan mendapat siksaan dengan sebilah kayu dan penanak nasi elektronik (Magicjar) bahkan mirisnya tempat penanak nasi tersebut merupakan hadiah pernikahan mereka.

Kejadian bermula Kamis (18/5) sekitar pukul 21.30 Wib, ketika itu dirinya (Frengky,red) baru saja pulang dari menjemput istrinya yang bekerja disebuah konter pulsa di kawasan yang sama.

“Saya malam itu sedang mabuk miras, karena bini ku ini marah-marah aku balik marah lalu aku pukuli dia,” katanya saat gelar perkara, Jumat (19/5).

Ayah satu anak ini menjelaskan, setiba di rumah kontrakan kemudian istrinya membuat susu untuk anaknya yang berusia dua tahun empat bulan.

“Setelah susunya diseduh, ternyata di dalam susu itu banyak semut. Dia malah marah-marah. Sudah saya bilang kalau di saring saja susunya tidak usah bikin baru dia malah marah terus sama saya,” ujarnya.

Akibat pengaruh miras dirinya dengan gelap mata memukuli istrinya dengan tangan kosong sebanyak dua kali kearah badan. Belum puas Franky mengambil penanak nasi elektronik yang jatuh tersenggol dan dihantamkannya ke arah kepala Rani sebanyak dua kali hingga memar.

“Setelahnya saya keluar rumah lihat ada kayu saya ambil terus saya pukulkan lagi ke dia. Lalu saya pergi,” ungkap pria yang sehari-hari berprofesi sebagai pedagang ayam di Pasar Pahlawan ini.

Kapolsek Ilir Timur I Kompol Rivanda melalui Kanit Reskrim Ipda Alkap mengatakan, korban melaporkan kejadian tersebut beberapa jam setelah kejadian. Pihaknya pun mengejar tersangka dan tak lama kemudian berhasil meringkusnya.

“Tersangka melakukan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) kepada istrinya menggunakan tangn kosong, penanak nasi, dan kayu,” ujarnya.

Franky dijerat dengan pasal 44 undang-undang RI nomor 23 tahun 2004 tentang perlindungan wanita dan diancam lima tahun kurungan penjara. (korankito.com/adi/amel)