Targetkan 16 Puskesmas Terakreditasi Tahun Ini

Plt Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Palembang Letizia. foto/raya

Palembang – Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Palembang, dari total 40 pusat kesehatan masyarakat (Puskesmas) yang ada, sebanyak 16 puskesmas ditargetkan terakreditasi tahun ini. Hal ini sebagai wujud nyata keseriusan Pemerintah Kota (Pemkot) Palembang untuk memberikan pelayanan yang prima terhadap masyarakat.

Hal ini disampaikan plt Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Palembang Letizia saat pembukaan Jambore Kader Posyandu Tingkat Kota Palembang 2017 di Aula Serba Guna Asrama Haji Palembang, Selasa (16/5).

“Persiapan sudah mencapai 70 persen. September sudah penilian dari Kementerian Kesehatan Pusat,” ungkapnya sembari mengatakan tahun depan semua puskemas sudah terakreditasi semua dalam angka menunjang Asian Games 2018.

Ia menjelaskan dari 10 puskemas yang telah terkareditasi Paripurna di Indonesia, tiga diantaranya ada di Palembang yakni Puskemas Dempo, Puskesmas Alang-Alang Lebar (AAL) dan Puskemas Plaju.

“2016 lalu 11 puskemas sudah terakreditasi, diantaranya tiga Puskemas terakreditasi Paripurna, tiga puskemas terakreditasi Utama, dan lima puskesmas terakreditasi Madya. Untuk Paripurna adalah yang paling tinggi,” jelasnya.

Sementara itu Walikota Palembang Harnojoyo menambahkan, tiga Puskesmas yang terkareditasi Paripurna ini sudah memiliki peralatan lengkap sehingga bisa menerapkan rawat inap. Sedangkan puskemas pembantu (Pustu) juga telah dilangkapi dengan dokter.  “Sudah ada 70 lebih dokter yang bertugas secara bergiliran,” sebutnya.

Tak hanya itu lanjutnya, ditahun ini Pemkot Palembang juga menganggarkan dana kesehatan lebih besar dari ketentuan pemerintah pusat, yakni 14,5 persen dari anggaran pendapatan belanja daerah (APBD) Kota Palembang. Sedangkan aturan pusat hanya 10 persen dari APBD.
Harnojoyo juga mengajak para kader posyandu untuk peduli juga terhadap lingkungan. Seperti yang telah dicontohkan selama ini melalui gotong royong kebersihan setiap akhir pekan.
“Jangan egois karena generasi kedepan yang akan melanjutkan kehidupan, yakni anak dan cucu. Jangan sampai karena prilaku kita lingkungan rusak, dulu sungai bisa untuk  minum, tempat ikan, dan tempat  transportasi. Sekarang airnya kotor, sungai bukan tempat transportasi lagi, tidak murah untuk menormalisasikan sungai. Karena itu kita harus  menghormati lingkungan,” tukasnya (korankito.com/raya/amel)