Isu Soal UN Berubah Dominan Esai, Ini Kata Kadisdik Sumsel

Kepala Dinas Pendidikan Sumsel, Widodo. Foto/eja

Palembang – Adanya isu perubahan model Ujian Nasional (UN) 2018 mendatang dengan memasukkan dan lebih dominan soal esai dari pada pilihan ganda seperti ujian sekolah berbasis nasional (USBN), membuat Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Sumatera Selatan (Sumsel) Widodo angkat bicara.

Menurut Widodo, kedepan idealnya soal UN itu kombinasi pilihan ganda dan esai. Namun lebih dominan ke esai, sebab akan mampu mengukur kompetensi siswa secara lebih presisi dari pada soal pilihan ganda.

“Idealnya itu kombinasi, namun lebih banyak ke esai karena akan mampu mengukur kompetensi siswa ketimbang yang pilihan ganda yang bisa jadi dilakukan secara nebak-nebak,” ungkapnya kepada Koran Kito melalui pesan singkatnya, Senin (15/5).

Widodo mengaku, memang ada beberapa kelemahan dalam soal esai tersebut, terutama saat pengkoreksian. “Kelemahan esai adalah koreksinya yang tentu akan membebani guru, subjektivitas dan tidak bisa menjangkau banyak kompetensi yang bisa diukur,” paparnya.

Dikatakannya, saat ini pihaknya​ belum menerima arahan khusus dari pihak Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) tentang perubahan model UN 2018. “Belum ada informasi yang dapat dipegang dari otoritas yang kita rujuk,” tegasnya.

Sementara itu, Kepala Sekolah Dasar Negeri (SDN) 1 Palembang Nurhasanah mengatakan, adanya perubahan itu memang baik, namun kalau itu dipakai untuk anak tingkat SD, ia merasa kebijakan itu kurang pas.

“Kalau untuk SD sebenarnya kurang sependapat dengan kebijakan tersebut karena belum pas untuk anak SD yang daya pikirnya belum begitu luas dibandingkan dengan siswa jenjang SMP dan SMA sederajat,” katanya.(korankito.com/eja/fran)