Alami Luka Bakar, Raka Ikut UN di Rumah

Raka Manggala Putra Rexa (14) siswa SMPN)9 Palembang, terpaksa mengikuti UN di rumah. Foto/eja

Palembang – Setelah lebih dari setahun terpaksa belajar di rumah, Raka akhirnya mengikuti ujian nasional (UN) di rumahnya, bahkan di atas kasur tempat ia biasa beristirahat.

Hampir setahun tiga bulan ini, Raka Manggala Putra Rexa (14) siswa sekolah menengah pertama negeri (SMPN) 9 Palembang hanya bisa terbaring di kasurnya. Pasalnya, sejak 14 Februari 2016 silam ia mengalami luka bakar great III atau terbakar sampai ketingkat jaringan.

Diketahui putra pasangan Reka (51) dan Ita (44) ini, mengalami luka bakar akibat api yang menyambar bagian sebelah tubuhnya saat melihat proses pemanggangan kemplang terlalu dekat. Sehingga ketika api ditambahkan minyak oleh pembuat kemplang, api menjalar ke tubuhnya.

Naasnya, ketika api menyambar tubuhnya, ia tengah menggunakan celana berbahan dasar karet hingga mudah terbakar. Alhasil ia mendapatkan luka bakar yang parah di kaki kirinya atau 15 persen dari seluruh tubuhnya.

Sejak saat itu, Raka hanya bisa mengikuti pelajaran melalui aplikasi WA dengan guru yang mengajarnya dan secara berkala ia mendapatkan kiriman materi pembelajaran dan soal dari sekolah.

Bahkan seminggu sekali guru-gurunya rutin bergantian mengajarinya di rumah. Sedangkan untuk materi lain yang dikirim oleh pihak sekolah pun setiap beberapa hari sekali diantar orangtuanya.

Orangtua Raka, Ita mengatakan, anaknya sudah tidak belajar di sekolah sejak setahun lebih yang dikarenakan mengalami luka bakar yang parah. Namun ia bersyukur pihak sekolah memaklumi keadaan anaknya dan tetap secara intens dan berkala memberikan pelajaran kepada anaknya yang hanya bisa terbaring di kasur.

“Saya bersyukur sekolah masih memaklumi keadaan anak saya yang mendapatkan keringanan untuk belajar di rumah,” ujarnya usai bercerita tentang keadaan anaknya kepada Wakil Walikota Palembang dan jajarannya yang mengunjungi anaknya, Kamis (4/5).

Sementara itu, Raka mengaku tidak terlalu mengalami kesulitan dalam menjawab soalnya. Sebab ia tetap belajar meskipun hanya melalui aplikasi WA dan materi yang diantarkan gurunya. “Soalnya susah-susah gampang, tapi tidak ada kendala untuk menjawabnya,” akunya.

Hal senada diungkapkan oleh Kepala SMPN 9 Palembang Hastia. Dikatakannya, sekolah tetap memberikan pelajaran di rumah dengan mengantarkan materi pelajaran ke rumahnya, kemudian dikirm sama orangtua ke sekolah.

“Tetap belajar, tetapi di rumah, karena materi soal kita kirim kesini. Paling tidak seminggu sekali kunjungan ke rumah dan tiap hari intens melalui WA,” pungkasnya.

Terpisah, Wakil Walikota Palembang Fitrianti Agustinda (Fitri) menuturkan, ia sempat kaget mendengar ada seorang siswa yang terpaksa belajar di rumah karena mengalami luka bakar.

“Seharusnya cepat dilaporkan agar bisa kita bantu, kami tidak pernah merasa keberatan. Justru kalau ia tidak mau sekolah lagi yang bisa membuat kita marah,” paparnya seusai melihat keadaan Raka. (korankito.com/eja/fran)