Pedagang Lorong Basah Tolak Biaya Pembangunan Awning

BIAYA AWNING: Sekda Palembang Harobin Mastofa (kedua dari kanan) bersalamam dengan perwakilan pegadang Lorong Basah, Pasar 16 Ilir, seusai rapat membahas biaya pembangunan awning Lorong Basah, Rabu (3/5) Foto/Aya.

Palembang – Sejumlah pegadang Lorong Sentot Ali Basah, Pasar 16 Ilir tolak besaran biaya pembangunan awning yang tetapkan Pemerintah Kota (Pemkot) Palembang, dalam rapat bersama di ruang Parameswara, Rabu (3/5).

Juru bicara pedagang Lorong Basah Rudi Hutabarat menegaskan, pihaknya menginginkan biaya pembangunan awning tidak dibebankan ke pedagang. Selain itu, pedagang juga merasa keberatan atas adanya pembangunan yang dilakukan tanpa ada kesepakatan antara pedagang dan Pemkot Palembang. “Terjadi keresahan pada kami selaku pedagang, tiba-tiba ada pembangunan tanpa pemberitahuan, sedangkan giliran kami meminta diadakan musyawarah selama ini tidak pernah ada respon,’’ paparnya saat rapat yang dihadiri Sekretaris Daerah (Sekda) Palembang Harobin Mastofa serta puluhan pegadang.

Menurutnya, kalau memang naitnya baik selesaikan dengan musyawarah. Tanpa ada kesepakatan berarti tidak ada musyawarah.

Pegadang juga mempertanyakan mekanisme pembangunan tersebut, soalnya pembangunan awning harus sesuai dengan surat Asosiasi Pedagang Pasar Seluruh Indonesi (APPSI), yakni dengan tidak akan membebankan pembangunan awning kepada pedagang.

Sementara itu, Sekda Palembang Harobin Mastofa menjelaskan, penolakan yang diajukan pegadang itu karena belum ditemukannya kesepakatan. Selain itu, pihaknya memastikan untuk tarif tahunan pedagang Lorong Basah ini akan tetap Rp 2,4 juta hingga tahun-tahun berikutnya. “Pedagang jangan pernah takut terhadap tarif yang akan berlaku pada sewa lanjutan ditahun-tahun berikutnya, dari Rp 2,4 juta itu tidak akan naik, saya pastikan itu,” tegasnya, sembari menolak untuk menggratiskan biaya pembangunan tersebut.

Harobin berkilah, sudah konsultasi dengan DPRD bahwa biaya pembangunan awning tidak bisa dibebankan kepada APBD. ‘’Jadi akan kita pikirkan lagi bagaimana baiknya pembangunan ini tetap memberikan kenyamanan ke pembeli tapi tidak merugikan pedagang, intinya begitu,” tuturnya.

Ia juga sepakat dengan para pedagang untuk mengedepankan musyawarah dan mufakat soal pembangunan awning itu. “Tentu harus ada kesepakatan dulu, selama ini memang masih ada miskomunikasi terkait dalam pembangunan ini. Jadi pembangunan akan kita stop terlebih dahulu,” imbuhnya. korankito.com/aya.