Diknas Linggau Data Anak Putus Sekolah

Kadiknas Linggau Thamri

Lubuklinggau-Pemerintah Kota Lubuklinggau mengirim surat khusus kepada 513 Ketua Rukun Tetangga (RT) untuk memantau dan mendata seluruh anak usia sekolah yang tidak sekolah (ATS) di lingkungannya masing-masing. ‎

Permintaan itu menindaklanjuti surat dari Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini dan Pendidikan Masyarakat, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.

‎Dalam selebaran surat yang ditandatangani oleh Sekretaris Daerah (Sekda) H Rahman Sani seluruh Ketua RT diminta menyisir seluruh anak putus sekolah.

“Jika ditemukan anak putus sekolah agar  kembali belajar di sekolah atau dapat mengikuti program kesetaraan (paket A, B, dan C) dengan menghubungi Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Lubuklinggau (Bidang Pembinaan PAUD dan Pendidikan Non Formal-red),” ungkap Sekda H Rahman Sani.

Menurut Rahman, anak usia sekolah yang tidak sekolah dan sudah menjadi peserta didik pada program kesetaraan akan dimasukkan dalam data pokok pendidikan (Dapodik). “Pendataan, rekruitmen dan entry data tersebut paling lambat tanggal 31 Mei 2017,” tambahnya.

Sementara itu, Rifat Ahmad, Ketua RT 09, Kelurahan Cereme Taba, Kecamatan Lubuklinggau Timur II, Kota Lubuklinggau, membenarkan, pihaknya mendapatkan surat edaran pendataan anak usia sekolah yang putus sekolah.

“Di lingkungan kami mungkin ada sekitar 5 orang anak yang putus sekolah. Sebagian besar anak usia Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP). Tapi data itu perlu kami verifikasi dan kroscek ulang di lapangan,” katanya‎.

Berdasar data sementara, penyebab utama anak-anak tersebut putus sekolah, antara lain orangtuanya tidak mampu, orangnya tidak proaktif atau kurang perduli, terhadap kelangsungan pendidikan anaknya serta anak itu tidak mau sekolah lagi.

“Sudah pernah kami datangi ke rumahnya, tapi ada beberapa anak yang memang tidak mau sekolah lagi,” jelasnya.

Sementara Kadis Diknas Kota Lubuklinggau, H Tamri mengakui masih ada anak putus sekolah di Kota Lubuklinggau, tetapi jumlahnya tidak sampai 100 orang. Namun justru mengkhawatirkan warga datangan yang putus sekolah dan sejauh ini belum terdata berapa jumlahnya.

“Memang ada tetapi jumlahnya tidak banyak, Lubuklinggau sendiri merupakan kota datangan dan tidak menutup kemungkinan justru lebih banyak warga datangan yang putus sekolah,” jelasnya.korankito.com/Dhia/drsd