Temuan Kasus Penderita TBC Selalu Meningkat, Dinkes Palembang Terapkan TOS

Palembang-Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Palembang selama tiga tahun ini penemuan kasus penderita Tuberculosis (TBC) selalu mengalami peningkatan. Pada tahun 2014 jumlah kasus TBC yang ditemukan sebanyak 131/100 ribu penduduk, 2015 ditemukan sebanyak 156/100 ribu penduduk dan di tahun 2016 ditemukan sebanyak 176/100 ribu jumlah penduduk. Dari data tersebut 55,7 persen merupakan penderita TBC baru dengan Bakteri Tahan Asam (BTA) positif dan negatif, 8,5 persen penderita TBC ekstra paru-paru dan 4,5 persen penderita TBC anak.

Plt Kepala Dinkes Kota Palembang dr Letizia melalui Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit dr Fauziah mengatakan sesuai dengan instruksi dari Kementrian Kesehatan (Kemenkes) RI, penemuan kasus penderita TBC harus ada peningkatan lima persen setiap tahunnya. Peningkatan penemuan kasus penderita TBC ini bertujuan agar si penderita bisa segera diobati.

“Sesuai target dari World Healt Organization (WHO) 2050 Harus Bebas TBC dan 2035 eliminasi kasus TBC, yakni  1/1 juta penduduk didunia. Untuk sekarang masih berada di angka 399/100 juta, penduduk, atau sekitar 39/1 juta penduduk,” ungkapnya.

Ia menjelaskan pihaknya berupaya menemukan sebanyak-banyaknya penderita TBC, agar bisa ditangani, diobati, dan mencegah penyebaran, memutus rantai sehingga eliminasi tercapai. Salah satu upaya yang dilakukan melalui program ketuk pintu atau door to door sosialisasi dan melakukan pemeriksaan kemasyarakat dengan program Gerakan Temukan Obati Sampai Sembuh (TOS).

Selain itu orang-orang yang kontak langsung dengan penderita TBC berpotensi terkena penularan, karena itu perlu juga dilakukan pemeriksaan, terlebih balita yang lebih rentan, meskipun tidak ada gejala TBC, jika berada di lingkungan yang terkena TBC harus dilakukan periksaan di Puskesmas, Rumah Sakit, atau klinik.

“TBC ini disebabkan oleh  micro bactery tuberculosis. Yang menyerang segala usia, terutama yang memiliki daya tahan tubuh yang rendah (imunitas), seperti prokok, penderita penyakit lain yang menyerang imunitas, diantaranya penyakit lupus, HIV/Aids. TBC juga tidak hanya pada paru-paru, ada juga TBC ekstra paru-paru, seperti di tulang atau di kelenjar getah bening (biasanya di sekitar leher),” ungkapnya.

Maka, masyarakat harus mengenali gejala-gejala yang timbul, antara lain batuk selama dua minggu lebih (bisa  batuk berdahak atau kering), batuk berdarah, deman tidak terlalu tinggi, turun berat badan, nafsu makan berkurang, sore atau malam berkeringat tanpa sebab, nyeri dada, untuk balita dua kali menimbang tidak naik, dan untuk TBC kelanjar ada pembesaran kelenjar tanpa sebab.

Selain itu, mengingat penyebaran TBC bisa melalui udara. Prilaku batuk harus diperhatikan, adalah ketika sakit  batuk, atau flu harus harus pakai masker,  saat batuk atau bersin harus ditutup mengunakan pakai lengan, tidak mengunakan tangan. Sebab tangan lebih sering kontak fisik dengan banyak orang, kalaupun pakai tangan harus dilapisi dengan sapu tangan atau tisu, setelah itu dibuang.

Meskipun demikian, TBC ini bisa sembuh, apabila penderita melakukan pemeriksaan, pengobatan dan mengikuti saran dokter.  Sebab, jika tidak disiplin minum obat, kuman bisa jadi resisten dan pengobatan menjadi semakin sulit.

“Kalau ada gejala, dahak diperiksa di laboratorium, kalau positif, pasien harus mengikuti rangkain pengobatan, seperti minum obat minimal 6 bulan jangan sampai telat sekali pun. Untuk obat-obatan gratis. Kami pun mengharap kepada pihak dari swasta untuk memakai obat-obatan yang telah diprogramkan,” tuturnya.

Karena itu tambah Fauziah, pihaknya juga mengharapkan kerjasama dari balai pengobatan swasta seperti klinik-klinik pengobatan swasta yang ada di Kota Palembang untuk menyarankan pasien yang datang ke kliniknya dengan gejala diatas agar mau memeriksa kesehatan mereka di Puskesmas. Terutama memeriksakan dahak mereka di Puskesmas agar segera dapat diobati.

“Kebanyakan kalau berobat di klinik swasta itu kan memakai obat diluar puskesmas yang harganya mahal. Dan biasanya penderita tidak sanggup untuk membeli secara berkelanjutan. Karena itu kita sarankan untuk berobat di Puskesmas,” tutupnya. (korankito.com/amel)