Tarik Iuran UNBK, Kadisdik Ancam Copot Kepala Sekolah

Kepala Dinas Pendidikan Sumsel, Widodo. Foto/Eja

Palembang – Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Sumatera Selatan (Sumsel) Widodo bakal copot kepala SMA/SMK yang menarik iuran untuk UNBK, yang dirasa memberatkan siswa dan orangtuanya.

Menurutnya, jika ini keinginan orangtua yang ingin anaknya ujian menggunakan komputer, hal tersebut dapat dipahami. “Tapi, kalau sekolah yang memaksakan, jelas salah. Kalau ketahuan sekolah yang memaksakan, akan saya berhentikan,” tegasnya, Senin (10/4).

Widodo menerangkan, pihaknya akan menyusuri apakah ada dan benar sekolah yang memungut biaya untuk pelaksanaan ujian nasional berbasis komputer (UNBK). Pasalnya, UNBK itu bukan ajang adu gengsi antar sekolah.

“Saya akan telusuri jika memang ada sekolah yang memberatkan orangtua, tapi kalau memang itu keputusan bersama orangtua dan sekolah maka sah saja. Kalau memberatkan orangtua itu salah, fokusnya adalah UN bisa menggunakan kertas ataupun komputer. Perlu dicatat, UNBK bukan adu gengsi,” bebernya.

Sementara itu, Kepala SMAN 19 Palembang Taufik menerangkan, penarikan biaya sebesar Rp 350 ribu terhadap 455 siswa kelas XII-nya tersebut, merupakan permohonan para orangtua agar anaknya bisa ujian menggunakan komputer dengan cara rental kepihak terkait, mulai dari pelaksanaan simulasi hingga pelaksanaan UNBK.

Padahal, sebagian besar siswa memiliki laptop sendiri. Namun, pihak sekolah tetap memberlakukan aturan dengan harus tetap menyewa perangkat komputer. Taufik mengaku, pihaknya sudah berkoordinasi dengan Dinas Pendidikan setempat.

“Adanya pembayaran Rp 350 ribu itu sesuai dengan persetujuan dari wali murid sendiri. Bukan soal diperbolehkan atau tidak bolehnya, namun karena ini adalah permintaan orang tua. Mereka yang memohon kepada sekolah. Belum lagi jumlah siswa kami yang terbanyak di Sumsel, sedangkan jumlah komputernya masih tidak cukup meski sudah dibagi dalam tiga sesi,” akunya. (korankito.com/eja/fran)