Prasasti Talang Tuo : Jejak Kejayaan Kerajaan Sriwijaya

Prasasti Talang Tuo berangka tahun 606 Çaka atau bertepatan dengan 23 Maret 684 M, yang ditulis dengan aksara Pallawa dan berbahasa Melayu Kuno. Kondisi fisik prasasti ini tergolong masih baik dengan bidang datar yang ditulisi dengan berukuran 50 cm x 80 cm, dan terdiri dari 14 baris.

Prasasti ini ditemukan oleh Louis Constant Westenenk, seorang Residen Palembang kala itu, di Desa Gandus, sebelah barat Kota Palembang pada tanggal 17 November 1920, adapula pendapat yang berkembang bahwa penemu pertamakali bukanlah Louis Constant Westenenk, namun hal itu menjadi tidak begitu urgent untuk diperdebatkan, karena hal yang lebih penting adalah makna yang tersurat dan tersirat dari isi prasasti itu sendiri. Saat ini Prasasti Talang Tuo disimpan di Museum Nasional Jakarta dengan nomor inventaris D.145.

Prasasti Talang Tuo merupakan prasasti peninggalan Kerajaan Sriwijaya. Sarjana pertama yang berhasil membaca dan mengalihaksarakan prasasti ini adalah van Ronkel dan Bosch, yang dimuat dalam Acta Orientalia.

Alih bahasa dari prasasti Talang Atuo ini dapat kita temukan dari berbagai referensi dan juga berbagai versi, namun dari semua versi ada beberapa kesamaan yaitu banyak ahli berpendapat bahwa isi prasasti itu adalah tentang doa-doa dedikasi, dimana hingga kini, doa-doa demikian masih dijalankan dan diyakini. Prasasti ini memperkuat bahwa terdapat pengaruh yang kuat dari cara pandang Budha Mahayana pada masa tersebut, hal itu bisa dilihat dari ditemukannya kata-kata seperti bodhicitta, mahasattva, vajrasarira, danannuttarabhisamyaksamvodhi, dimana istilah-istilah bahasa Sanskerta tersebut memang digunakan secara umum dalam ajaran Mahayana. Prasasti Talang Tuo menceriterakan Sri Baginda Dapunta Hyang Sri Jayanasa membuat Taman Sriksetra untuk kemakmuran semua penduduk dan terdapat doa-doa yang bersifat Budha Mahayana.

Prasasti Talang Tuo/Wikipedia

Alih bahasa:

Berdasarkan kutipan dari wikipedia, berikut di bawah ini adalah terjemahan prasasti tersebut menurut George Cœdès.

 

“Pada tanggal 23 Maret 684 Masehi, pada saat itulah taman ini yang dinamakan Śrīksetra dibuat di bawah pimpinan Sri Baginda Śrī Jayanāśa. Inilah niat baginda: Semoga yang ditanam di sini, pohon kelapa, pinang, aren, sagu, dan bermacam-macam pohon, buahnya dapat dimakan, demikian pula bambu haur, waluh, dan pattum, dan sebagainya; dan semoga juga tanaman-tanaman lainnya dengan bendungan-bendungan dan kolam-kolamnya, dan semua amal yang saya berikan, dapat digunakan untuk kebaikan semua makhluk, yang dapat pindah tempat dan yang tidak, dan bagi mereka menjadi jalan terbaik untuk mendapatkan kebahagiaan. Jika mereka lapar waktu beristirahat atau dalam perjalanan, semoga mereka menemukan makanan serta air minum. Semoga semua kebun yang mereka buka menjadi berlebih (panennya). Semoga suburlah ternak bermacam jenis yang mereka pelihara, dan juga budak-budak milik mereka. Semoga mereka tidak terkena malapetaka, tidak tersiksa karena tidak bisa tidur. Apa pun yang mereka perbuat, semoga semua planet dan bintang menguntungkan mereka, dan semoga mereka terhindar dari penyakit dan ketuaan selama menjalankan usaha mereka. Dan juga semoga semua hamba mereka setia pada mereka dan berbakti, lagipula semoga teman-teman mereka tidak mengkhianati mereka dan semoga istri mereka menjadi istri yang setia. Lebih-lebih lagi, di mana pun mereka berada, semoga di tempat itu tidak ada pencuri, atau orang yang mempergunakan kekerasan, atau pembunuh, atau penzinah. Selain itu, semoga mereka mempunyai seorang kawan sebagai penasihat baik; semoga dalam diri mereka lahir pikiran Boddhi dan persahabatan (…) dari Tiga Ratna, dan semoga mereka tidak terpisah dari Tiga Ratna itu. Dan juga semoga senantiasa (mereka bersikap) murah hati, taat pada peraturan, dan sabar; semoga dalam diri mereka terbit tenaga, kerajinan, pengetahuan akan semua kesenian berbagai jenis; semoga semangat mereka terpusatkan, mereka memiliki pengetahuan, ingatan, kecerdasan. Lagi pula semoga mereka teguh pendapatnya, bertubuh intan seperti para mahāsattwa berkekuatan tiada bertara, berjaya, dan juga ingat akan kehidupan-kehidupan mereka sebelumnya, berindra lengkap, berbentuk penuh, berbahagia, bersenyum, tenang, bersuara yang menyenangkan, suara Brahmā. Semoga mereka dilahirkan sebagai laki-laki, dan keberadaannya berkat mereka sendiri; semoga mereka menjadi wadah Batu Ajaib, mempunyai kekuasaan atas kelahiran-kelahiran, kekuasaan atas karma, kekuasaan atas noda, dan semoga akhirnya mereka mendapatkan Penerangan sempurna lagi agung”

Jika kita membaca, menelaah dan mencoba untuk memahaminya maka, hampir semua isi prasasti-prasasti yang ada sekarang ini sama dengan menerka misteri yg tak bertemu ujung pangkalnya karena memang tidak mudah untuk memahami, apa yg tersirat didalam benak si penulis prasasti tersebut. Karena kebenaran bisa terungkap jika ada komitmen dari pihak pihak yang berkompeten dalam mengungkapkan sejarah kerajaan Sriwijaya sebagai kerajaan yang pernah berjaya di masa lalu.  Sehingga kita sebagai generasi yang ada saat ini dapat mengambil hikmah dan makna dari keluhuran nenek moyang kita dimasa lampau.  Wallahualam Bissawab (berbagaisumber/***)