Mitos atau Fakta? Keberadaan Orang Pendek Sumatera

ilustrasi/net

Belakangan ini marak pemberitaan mengenai penampakan “makhluk mungil” yang sempat terekam kamera video amatir seperti yang di publish dalam akun facebook milik fredo Pastrana yang diklaim didapatkan diwilayah Aceh.  Dan menurut pengunggah lokasi tepatnya mereka samarkan dengan alasan untuk melindungi ‘makhluk mungil” itu dari tangan-tangan pihak yang tidak bertanggung jawab demi kelestarian dan kesinambungan alam.

Sebenarnya cerita mengenai ‘makhluk mungil’ ini sudah ada lebih dari ratusan tahun yang lalu, diantaranya terdapat dalam catatan penjelajah Marco Polo tahun 1292, saat ia berpetualang ke Asia. Walau diyakini keberadaannya oleh penduduk setempat, makhluk ini dipandang hanya sebagai mitos oleh para ilmuwan, seperti halnya mitos tentang bigfoot, yeti di Himalaya dan monster Loch Ness Inggris Raya atau keberadaan Alien yang sampai dengan saat ini masih menjadi kontroversi.

Legenda Mengenai Orang Pendek sudah secara turun temurun dikisahkan di dalam kebudayaan masyarakat di Sumatera. Kisah perburuan orang pendek Sumatera sebenarnya sudah berlangsung sangat lama.  Salah satu referensi awal mengenai keberadaan ”orang pendek” berasal dari tulisan William Marsden di buku The History of Sumatera yang terbit pertama pada 1783. Marsden, pegawai asal Inggris di East India Company yang berbasis di Bengkulu pada 1770-an, menyebut soal orang gugu yang dideskripsikannya dengan tubuh yang ditutupi bulu. Namun, Marsden tidak mendeskripsikan tinggi orang gugu ini.

Fenomena tentang “makhluk mungil” ini, sebenarnya bisa ditemukan disepanjang pulau Sumatera berbagai macam cerita yang berkembang dimasyarakat nya, berbagai macam pula legenda dan mitos yang melingkupinya, selain itu sesuai tempatnya makhluk ini memiliki berbagaimacam gelar atau nama diantaranya :  Atu Pendek, Ijaoe, Sedabo, Sedapa, Sindai, Uhang Pandak, Orang Letjo dan Orang Gugu.

 

Di Sumatera Selatan sendiri ada beberapa kesaksian yang menyatakan pernah melihat “makhluk mungil’ yang legendaris ini :

Penampakan makhluk ini juga sempat dilaporkan di wilayah Palembang. Seorang Belanda yang bernama Van Herwaarden menceritakan bahwa ia melihat Orang Pendek di sebuah pohon di utara Palembang pada Oktober 1923. Pertama, Herwaarden bermaksud menembaknya, namun kemudian ia melihat makhluk itu sangat mirip dengan manusia sehingga ia memutuskan untuk membiarkannya. Menurut dia, bulu di bagian depan tubuh lebih terang dibanding di bagian belakang dengan tinggi badan sekitar 150. Pengalamannya dipublikasikan di majalah Tropical Nature no.13 yang terbit tahun 1924.

Ada pula,kisah yang disampaikan De Santy menceritakan pengalamannya ketika sedang berada di Bajuasin (Banyuasin) Sumatera Selatan pada 1925. Dia memperoleh keterangan dari masyarakat setempat tentang adanya makhluk dengan sebutan ‘sedapak’. Tubuh sedapak ini dipenuhi bulu.

Ada juga cerita tentang seorang nelayan didaerah perairan Banyuasin  yang menemukan mayat perempuan sedapak. Umurnya diperkirakan 10 hingga 12 tahun. Lengan bawahnya lebih panjang ketimbang lengan atasnya. Jari tengah lebih panjang. Tumitnya lebih lancip.
Cerita tentang “makhluk mungil” atau orang pendek ini tentu membutuhkan bukti-bukti pendukung dan tidak hanya berdasarkan  cerita dari mulut kemulut,

Sekadar tambahan referensi untuk kita, misteri keberadaan Orang Pendek ini telah masuk di dalam salah satu kajian Cryptozoolgy, dari berbagai sumber yang kami himpun, ekspedisi pencarian Orang Pendek ini sudah beberapa kali di lakukan di Kawasan Kerinci, salah satunya adalah ekspedisi yang dibiayai oleh National Geographic Society.

National Geographic sangat tertarik mengenai legenda Orang Pendek di Sumatera. Beberapa penyelidik telah dikirim ke sana untuk melakukan kajian mengenai makhluk tersebut. Para saksi yang mengaku pernah melihat Orang Pendek menggambarkan deskripsi tentang makhluk yang berjalan tegap ini (berjalan dengan dua kaki) memiliki tinggi kira-kira satu meter (di antara 85 cm hingga 130 cm) dan mempunyai banyak bulu di seluruh badan. Bahkan ada juga yang mengklaim Orang Pendek tersebut berjalan dengan membawa berbagai peralatan berburu seperti tombak.

Jadi kesimpulan tentang keberadaan “makhkluk mungil” ini,  apakah  masuk golongan hewan atau  manusia, atau bukan dua-duanya?  Dan pertanyaan yang harus mendapatkan jawaban ialah, apakah “makhluk mungil” ini benar benar ada ataukah hanya sebatas Mitos atau legenda saja? Semua bisa terjawab jika ditemukan bukti-bukti fisik. Dan jika tidak maka akan terus menjadi kontroversi tentang keberadaannya.  Wallahua’lam bissawab. (dariberbagaisumber/***)