7 Cara Mengenalkan Pendidikan Seks Sejak Dini Kepada Anak

ilustrasi/pixabay.com

Dengan semakin maraknya kasus kekerasan terhadap anak dibawah umur menyebabkan kekhawatiran bagi orang tua. Pasalnya, kekerasan seksual terjadi hampir setiap waktu dan dekat dengan kita. Baru-baru ini terbongkarnya grup pedofil di facebook “Official Candy’s Group” dengan tertangkapnya admin dari grup tersebut. Grup yang berisikan tentang percakapan tidak pantas antar anggota, foto dan video kekerasan seksual terhadap anak, hingga cara-cara membujuk anak-anak dibawah umur.

Mengapa hal ini penting? Pendidikan seks sejak usia dini sangatlah penting untuk ditanamkan karena akan mempermudah anak dalam mengembangkan harga diri, kepercayaan diri, kepribadian yang sehat, dan penerimaan diri yang positif. Di sini peran orang tua benar-benar penting. Merekalah yang paling mengenal kebutuhan anak, paling tahu perubahan dan perkembangan diri anak, serta bisa memberi pendidikan seks secara alamiah sesuai tahap-tahap perkembangan yang terjadi.

Kekerasan seksual terhadap anak tidak hanya dilakukan oleh orang yang tidak kita kenal, melainkan dapat terjadi dari orang terdekat. Banyak kasus yang ditemukan tetangga mencabuli anak tetangganya, kakek mencabuli cucunya, hingga kasus yang paling miris adalah seorang ayah yang berani mencabuli anaknya. Hal ini disebabkan oleh perilaku menyimpang dari pelaku dan diperparah dengan ketidakmampuan anak melawan perlakuan mereka. Berdasarkan peristiwa tersebut, sangat penting bagi orang tua untuk mengajarkan pendidikan seks kepada anak sejak anak masih kecil. Berikut, 7 Cara Mengenalkan Pendidikan Seks (Sex Education) Sejak Dini kepada Anak!

1.Kenalkan bagian tubuh yang tidak boleh dilihat dan disentuh orang lain.

Kenalkan anak bagian-bagian tubuh dan fungsinya, kemudian berikan penjelasan ada bagian tubuh tertentu yang tidak boleh dilihat dan disentuh orang lain. Bagian tubuh tersebut antara lain: dada, bibir, organ reproduksi, dan pantat.

2.Ajarkan konsep perbedaan jenis kelamin kepada anak.

Orang tua perlu mengajarkan anak tentang perbedaan jenis kelamin antara perempuan dan laki-laki. Memberikan contoh bahwa laki-laki nantinya akan seperti ayah, dan perempuan seperti ibu. Konsep perbedaan jenis kelamin ini juga berfungsi untuk mengajarkan anak menggunakan toilet dan pakaian sesuai dengan jenis kelaminnya.

3.Tanamkan budaya malu kepada anak.

Penting bagi orang tua mengajarkan rasa malu kepada anak agar anak dapat menghargai dirinya sendiri. Mengajarkan batasan-batasan dalam bermain dengan lawan jenis. Memberi arahan untuk tidak melepas dan mengganti pakaian di tempat umum.

4.Membatasi aktivitas menonton pada anak.

Disamping dampak negatif yang muncul dari kebiasaan menonton televisi terlalu lama, tayangan yang dipertontonkan kepada anak juga tidak semuanya bernilai pendidikan. Banyaknya tayangan yang  menampilkan adegan-adegan yang belum pantas dilihat oleh anak. Hal ini akan mengakibatkan anak meniriu adegan dalam tayangan tersebut karena sifat alamiah dari anak adalah meniru apa yang mereka lihat. Lebih baik bermain bersama anak daripada membiarkan anak menonton televisi.

5.Jauhkan gadget dari anak!

Dewasa ini banyak orang tua dengan bangga memberikan gadget kepada anak. Sebagian oang tua bahkan memberikan akses penuh gadget kepada anak dengan dalih agar anak dapat belajar atau agar anak tidak menganggu pekerjaan orang tua. Namun, hal tersebut bukanlah langkah yang tepat bagi orang tua. Anak dibiarkan mendownload games tanpa pengawasan orang tua. Padahal banyaknya konten yang tersembunyi dari games tersebut. Banyaknya unsur pornografi dan perilaku yang kurang pantas dilihat oleh anak ada di dalamnya.

6.Tumbuhkan rasa percaya anak kepada orang tua.

Tumbuhkan rasa percaya anak kepada orang tua. Ajarkan anak untuk tidak menyembunyikan apapun dari orang tua apabila ada perlakuan yang tidak pantas yang diterima atau yang terlihat oleh anak meskipun anak mendapatkan ancaman dari si pelaku.

7.Bicarakan seks kepada anak dengan mengajak diskusi sederhana.

Pendidikan seks dapat ditanamkan orang tua dengan mengajak anak berdiskusi sederhana dan menyenangkan. Menjawab pertanyaan anak dengan lemah lembut. Menjelaskan fakta-fakta yang terjadi dilapangan dengan bahasa yang tidak vulgar dan tidak terkesan menakut-nakuti anak.

Orang tua juga harus banyak mempelajari hal-hal terkait tentang pendidikan seks terhadap anak. Karena, semakin berkembangnya zaman pemikiran anak akan semakin bertambah dan anak akan semakin kritis mempertanyakan hal-hal yang tidak dimengerti olehnya. Penting bagi orang tua untuk banyak membaca atau mengikuti forum diskusi seputar pendidikan seks untuk anak usia dini dari pakar yang berkompeten dibidangnya. (berbagaisumber/***)