Program Sriwijaya 2020 Incar Prestasi di PON Papua

 

Wakil Ketua II Satgas Samsu Ramel.foto/resha

Palembang-Sumsel memang terkenal sebagai penyelenggara event-event bertaraf internasional. Bahkan pada tahun 2018 mendatang, Sumsel bersama Jakarta bakal menjadi tuan rumah Asian Games. Berbagai sarana dan prasarana pun dipersiapkan demi suksesnya   perhelatan Asian Games ini.

Sayangnya, kepopuleran Sumsel sebagai penyelenggara event-event besar olahraga internasional tidak dibarengi dengan torehan prestasi yang mentereng oleh para atlet Sumsel.

Tengok saja di level nasional atau pada PON Jabar 2016, Sumsel hanya mampu bertengger di posisi ke-21.   Tak mau kejadian ini terulang Sumsel pun mempersiapkan atletnya untuk ajang Pekan Olahraga Nasional (PON) 2020 di Papua. Program pembinaan atlet bertajuk Sriwijaya 2020 telah dirancang.

Posisi ke-21 pada PON 2016 Jabar menjadi pemecut pembinaan atlet. Program Sriwijaya 2020 dari Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Sumsel diharapkan mampu memperbaiki prestasi Sumsel di multievent olahraga empat tahunan itu.

“Yang jelas atlet dan pelatih sudah dalam proses pelatihan. Tinggal menunggu dukungan dari KONI, namun kita sudah membentuk satgas,” terang Ketua Satgas Sriwijaya 2020 Ahmad Yusuf Wibowo melalui Wakil Ketua II Satgas Samsu Ramel.

Para atlet akan dibina sesuai dengan cabor. Mereka yang masuk program ini dibagi menjadi empat level, yakni level utama, madya, pratama dan potensial.

“Level utama itu mereka yang kemarin dapat emas PON 2016, madya peraih perak, pratama perunggu dan potensial itu mereka mendapat medali emas minimal dua kali Kejurnas di cabor masing-masing,” ungkapnya.

Mengacu pada program pembinaan serupa sebelumnya, KONI Sumsel memberikan uang pembinaan sebesar Rp5 juta per bulan untuku utama, madya Rp3,5 juta, pratama Rp 2,5 juta dan potensial Rp1,5 juta. Uang itu untuk biaya transport mereka dan perbaikan gizi serta honor selama mengikuti pembinaan per bulan.

Pada program ini sistem degradasi dan promosi per tiga bulan. Mereka yang tidak serius akan tersingkir berdasarkan evaluasi. Mereka yang konstan mengalami kenaikan akan dinaikkan levelnya.

“Tesnya sendiri ada fisik dan medical check up. Sekarang didata kami ada 20 pelatih dari 15 cabor, dengan 60 orang atlet. Saat ini masih didata kembali,” bebernya.

Ia berharap dengan program ini akan meningkatkan prestasi yang ada di Sumsel. Sriwijaya 2020 dibentuk dengan efisiensi dimana pengurusnya hanya 15 orang, berbeda dengan tahun sebelumnya yang lebih dari 100 orang namun tidak efektif.

“Kita tinggal menunggu SK dari Gubernur Sumsel selaku Ketua Umum KONI Sumsel. Jika sudah, akan kita launching dan jalan secara resmi,” pungkasnya.korankito.com/resh/drsd