Irigasi Baru Tak Berfungsi, Petani Tak Bisa Garap Sawah

Salah satu warga memperlihatlan saluran irigasi yang dibangun tahun 2016 tidak berfungsi sama sekali sehingga areal persawahan tetap kering dan tidak bisa digarap petani.foto/rodi

Empatlawang-Sejak dua tahun terakhir ini, ratusan hektar areal persawahan di Desa Lamparbaru, Kemangmanis, Rantautenang dan Kelurahan Kupang, Kecamatan Tebingtinggi, terbengkalai dan tidak bisa digarap petani. Pasalnya, petani kesulitan mendapatkan pasokan air untuk mengaliri sawah mereka.

Meski Pemkab Empatlawang sudah membuat bangunan irigasi pada akhir 2016, namun nyatanya hingga saat ini irigasi tersebut tidak berfungsi dan lahan persawahan tetap ditumbuhi semak belukar. Sebelumnya, areal persawahan ini mendapatkan pasokan air yang cukup. Namun jebolnya bendungan di bagian hulu, membuat pasokan air macet total.

Diduga ada perencanaan yang salah pada saluran irigasi yang baru dibangun 2016 sehingga menyebabkan pasokan air untuk ratusan hektar persawahan tersebut tidak terpenuhi sama sekali.

Dedi (52), warga Lamparbaru mengatakan, tidak kurang 500 hektar sawah penduduk masih menjadi semak belukar akibat irigasi belum berfungsi. Padahal irigasi sudah diperbaiki, namun masih belum bisa mengalirkan air ke areal sawah.

“Artinya perbaikan irigasi itu percuma atau sia-sia saja, katanya bangun irigasi namun kenyataanya sawah di desa kami masih jadi belukar karena tidak ada air. Kami minta pemerintah, tolong dilihat kondisi kami ini seperti apa,” ungkap Dedi.

Ia menambahkan, tidak hanya ratusan sawah. Peternak ikan juga tidak bisa berbuat banyak, akibat kurangnya air. Kalau dulu kolam ikan hasilnya bisa menghidupi keluarga, sekarang tidak bisa diandalkan lagi.

Warga lainnya, Arman menambahkan, sekitar satu bidang lahan sawah miliknya masih hijau ditumbuhi semak belukar. “Bagaimana mau digarap, kalau airnya belum ada,” jelas Arman.

Sementara itu Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Empatlawang melalui bidang pengolaan sumberdaya air, Dading mengatakan,  pengerjaan proyek irigasi di Desa Lamparbaru menggunakan Dana Alokasi Khusus ( DAK).

Menurutnya, pelaksanaannya selesai dikerjakan namun akibat adanya kerusakan lain di hulu irigasi, debit air kecil sehingga air belum bisa mengalir ke saluran yang baru.

“Itu karena jebol di lokasi lain, di depan dam. Saat dilakukan pengetesan, airnya sudah mengalir. Rencananya pada Anggaran Belanja Tambahan (ABT) nanti, dianggarkan lagi,” kata Dading.korankito.com/rodi/drsd