Bisa Dipercaya

Kok, Siswi SMKN Nekat Rekayasa Penculikan

Kapolresta Palembang Kombes Pol Wahyu Bintono Hari Bawono. Foto/Denny

 

Palembang – Laporan kasus penculikan yang dialami seorang siswi sekolah menengah kejuruan negeri (SMKN) di Palembang, beberapa hari lalu ternyata rekayasa.

Informasi yang didapat koran kito menyebutkan, remaja yang tinggal di Jalan Perindustrian I, Kelurahan Kebun Bunga, Kecamatan Sukarami, Palembang itu, nekat merekayasa penculikan terhadap dirinya karena takut dimarahi orangtuanya saat pulang ke rumah.

Berita Sejenis
1 daripada 2

Kapolresta Palembang Kombes Pol Wahyu Bintono Hari Bawono mengungkapkan, tidak ada penculikan di Kota Palembang. Kapolresta menegaskan, seusai menerima laporan dari korban TA (16) pada Kamis (16/3) petang, Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polresta Palembang langsung melakukan penyelidikan.

“Setelah kita melakukan penyelidikan dan dilakukan pendalaman meminta keterangan saksi-saksi serta mengumpulkan bukti yang ada, jadi kita katakan tidak ada kasus penculikan di Kota Palembang,” jelasnya di Mapolresta Palembang, Sabtu (18/3) petang.

Menurut Wahyu, ada beberapa hal yang menjadi pertimbangan pihaknya untuk menyimpulkan kalau laporan penculikan yang dibuat oleh TA tidak benar. Diantaranya, terlapor dan pelaku sebelumnya sudah saling mengenal terlebih dahulu. ‘’Selain itu, setelah kita melihat rekaman CCTV yang berada di sekolahan korban, tidak tampak kalau korban menaiki mobil yang diinformasikan awal merupakan kawanan pelaku penculikan. Berdasarkan keterangan saksi, melihat korban dan terlapor sama-sama menaiki motor,” jelasnya.

Kapolresta menambahkan, kejadian yang sebenarnya yakni ketika itu korban berjanjian dengan kedua terlapor untuk bertemu menghadiri acara pesta ulang tahun temannya, namun ketika dalam perjalanan terlapor dan korban terjadi keributan.

“Mereka berjanjian di sekolahan untuk menghadiri acara ultah temannya. Namun, dijalan terjadi keributan diantara mereka, sehingga korban meminta diturunkan di tengah jalan. Lalu, korban menelpon orangtuanya mengatakan kalau sudah diculik dan membuat laporan dari Polresta,” jelasnya.

Sementara itu, Kuasa Hukum Indah dan Karolin yang menjadi terlapor dalam kasus penculikan tersebut yakni Roy mengatakan kliennya sudah mengenali korban terlebih dahulu. “Mereka ini janjian untuk menjemput TA di sekolahnya. Jadi tidak ada yang namanya penculikan,” tuturnya.

Sedangkan ayah korban TA yakni Teguh mengakui salah perbuatan yang mengaku diculik oleh anaknya itu. “Iya, kami emang salah. Kalau bisa diselesaikan dengan cara keluargaan saja,” kata pria yang keseharian sebagai buruh bangunan ini. korankito.com/denny/sym