Salahgunakan Visa, Pria Cina Diamankan Imigrasi Palembang

Lai Leping, WN Cina saat diamankan petugas Imigrasi palembang.foto/deny

Palembang- Berencana melakukan investasi di Sumsel, Lai Leping (27), warga negara asing (WNA) asal Tiongkok, ditangkap petugas Imigrasi Kelas I Palembang, di Kota Prabumulih, Sabtu (11/3) malam.

Lai Leping ditangkap Imigrasi Kelas I Palembang karena sudah menyalahgunakan visa. Lai seharusnya menggunakan visa bisnis namun kenyataannya menggunakan visa wisata.

“Saya salah, saya minta maaf. Saya tak tahu kalau ini salah,” ujarnya dalam pesan yang ia ketik dalam bahasa Tiongkok yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia melalui ponsel yang dipegangnya.

Ia tidak mengetahui kalau hal yang dilakukannya itu salah. Menurutnya, ia hanya sekedar bermain sembari melihat prospek bisnis yang ada di Indonesia. “Sudah dua puluh hari, berada di sana,” tambahnya.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, tertangkap WNA tersebut berawal saat pihak Imigrasi Kelas I Palembang mendapat laporan dari anggota SAR Intelkam Polresta Prabumulih tentang keberadaan Lai Leping.

Ketika itu, WNA tersebut sedang berada di sebuah bekas rumah makan yang dijadikan tempat usaha. Lalu, di sana WNA tersebut sedang membagikan gaji kepada karyawan yang ada diperusahaan tersebut.

“Kita dapat kabar dari Satintelkam Polresta Prabumulih dan diserahkan ke sini (imigrasi-red) pada Minggu dini hari,” ujar Kepala Sub Seksi Pengawasan Imigrasi Kelas I Palembang Widyo Sandhi Suprapto.

Ia mengatakan, WNA tersebut baru berada dua puluh hari di Sumsel dan telah menyalahgunakan visa. Terlebih lagi, perusahaan yang menjaminnya belum diketahui.
“Kita tangkap karena salah gunakan visa yang seharusnya visa bisnis namun ia memakai visa wisata. Kita juga masih selidiki karena penjamin perusahaan ini bukan ada di Palembang maupun Prabumuli,” tambahnya.

Saat ini, pihaknya telah menahan sementara WNA tersebut dan akan melakukan penyelidikan lebih dalam. Apabila terbukti bersalah telah menyalahgunakan visa, maka akan segera dideportasi.

“Diketahui bisnis yang ada di Prabumulih itu adalah bisnis es tapi belum tahu apakah es balok atau es krim. Dan ini sudah melanggar pasal 75 Undang Undang nomor 6 tahun 2011 tentang keimigrasian,” tegasnya.korabnkito.com/deny