Legenda Buaya Pemulutan

Gerbang Kecamatan Pemulutan. Foto/pemulutan.blogspot.co.id

Sumatera Selatan, sebagai daerah yang dipenuhi rawa-rawa dan dilewati banyak sungai, memiliki populasi buaya yang cukup banyak dan penampakan buaya merupakan hal biasa. Bahkan di kalangan masyarakat dikenal pula ilmu buaya. Yakni ilmu hitam, yang mana pemiliknya akan berubah menjadi buaya kalau sudah meninggal dunia.

Di tepian Sungai Musi, Palembang, banyak legenda mengenai buaya yang diceritakan turun temurun, salah satunya di Pemulutan, Kabupaten Ogan Ilir, Sumsel. Mereka sangat percaya dengan legenda-legenda mengenai buaya. Sebagian besar warga Pemulutan percaya, nenek moyang mereka adalah buaya. Sebab ilmu buaya banyak dikuasai masyarakat Pemulutan dan ada yang menjadi pawang buaya.

 

Ilustrasi

Banyak warga Pemulutan yang dapat berubah menjadi buaya jika masuk ke dalam sungai atau rawa, namun kadang-kadang  ilmu ini disalahgunakan untuk perbuatan-perbuatan yang tidak baik.

 

Menurut legenda dimasyarakat, Pemulutan berasal dari kata “pulut” atau getah dari pohon karet yang tumbuh di  kawasan ini. Pada masa kejayaan pemerintahan kerajaan Sriwijaya, saat itu rajanya ingin mengadakan perayaan. Namun, sang raja menginginkan pesta itu dilaksanakan di luar kerajaan. Akhirnya dipilihlah kawasan Pemulutan (saat itu belum bernama Pemulutan). Ketika kawasan untuk pesta sudah dipilih, dengan menggunakan kapal karena saat itu alat transportasi utama adalah transportasi air.

 

Para prajurit mencoba untuk berlabuh, tapi kala itu mereka dihalangi segerombolan buaya sehingga rombongan prajurit Sriwijaya ini membatalkan niatnya untuk menepi.  Kemudian memilih tempat lain yang terdekat. Namun lagi-lagi buaya itu kembali timbul ke permukaan air. Sehingga rombongan itu pun memilih pulang.


Didorong rasa penasaran, beberapa waktu kemudian rombongan raja beserta pasukannya kembali mendatangi tempat yang telah mereka pilih. Rupanya keberuntungan belum berpihak kepada rombongan raja. Karena buaya-buaya itu kembali menghalangi kedatangan pasukan kerajaan.

 

Penduduk yang mengetahui keinginan pasukan kerajaan itu kemudian memberikan informasi bahwa buaya-buaya yang sering menghalangi mereka suka berjemur di daratan. Lalu untuk menaklukan buaya-buaya ini, para penduduk menyarankan untuk mencari pulut sejenis getah karet

yang bisa dipakai untuk menaklukan buaya.

 

Akhirnya ide ini pun diterapkan oleh pasukan dari kerajaan Sriwijaya sehingga buaya-buaya yang menjadi penghalang kedatangan mereka berhasil ditangkap. Inilah asal mula nama Pemulutan. Dari pulut kemudian pengucapan pun menjadi Pemulutan.
Rupanya malam hari setelah kejadian penangkapan itu, para penduduk dihantui mimpi tentang buaya yang ditangkap. Dalam mimpi mereka diusulkan kalau buaya-buaya itu jangan disakiti tapi cukup diusir ke daerah oleh orang yang ahlinya ke tempat lain.

 

Lantaran mimpi itulah, keesokan harinya buaya yang telah ditangkap oleh pawang buaya yang memang banyak di Pemulutan diusir ke tempat lain dan tidak mengganggu pasukan kerajaan serta penduduk sekitar.


Akhirnya setelah kondisi aman, pasukan kerajaan pun berlabuh di kawasan Pemulutan. Tempat pasukan berlabuh ini sampai saat ini dinamakan Desa Pelabuhan Dalam. Selanjutnya pasukan kerajaan berjalan menuju ke desa tetangga Pelabuhan Dalam. Di tempat inilah perayaan digelar dengan membunyikan tetabuhan berupa kecapi. Sehingga sampai saat ini, desa tempat perayaan ini dinamakan Desa Teluk Kecapi.


Bermula dari legenda inilah, kawasan Pemulutan terkenal dengan pawang buayanya. Bahkan, lambang gerbang masuk Desa Pelabuhan Dalam adalah buaya.

 

Bahkan pawang buaya dari Pemulutan mampu menyelam lama tanpa bantuan alat menyelam yang memadai. Buktinya, saat peristiwa jatuhnya pesawat Silk Air di Perairan Sungsang, yang mampu menyelam mencari bangkai pesawat itu adalah pawang buaya dari Pemulutan. Bahkan konon pawang buaya dari Pemulutan pernah bertanding dan memenangkan kompetisi menaklukan buaya di Singapura.


Keberadaan pawang buaya yang mumpuni ini juga didukung cerita tentang salah satu pawang yang tidak tinggal satu rumah dengan istrinya karena sang pawang kerap menjelma menjadi buaya saat sedang tidur.
Sampai saat ini, masyarakat sekitar percaya bahwa jika pawang ini melemparkan puntung rokok atau lidi korek api ke sungai, maka akan menjelma menjadi buaya. Wallahua’lambissawab.. (korankito.com/berbagai sumber/***)