Polair Polda Sumsel Gagalkan Penyelundupan Satwa Laut Dilindungi

Foto/kardo

Palembang- Jajaran Dit Polair Polda Sumsel berhasil menggagalkan aksi penyelundupan Ketam Tapal Kuda atau Blankas dengan nama latinnya, Tachirpleus Gigas, merupakan salah satu jenis satwa laut yang keberadaanya terancam punah dan dilindungi di Pangkalan Sandar perairan Sungsang Banyuasin.


Sekitar 8000 ekor Ketam Tapal Kuda, asal Perairan Sembilang, Banyuasin, rencananya akan diselundupkan ke negeri Jiran Malaysia, pada Minggu (05/3) sekitar pukul 16.00 WIB, saat Kapal Jukung MS Robi Ayu, dikemudikan Saiful (45), melintas di Perairan Tanjung Kampe Sungsang, Banyuasin, saat diperiksa ditemukan 5000 Ketam Tapal Kuda dalam Kapalnya.

Kemudian dari hasil pengembangan,kembali diamankan sebuah kapal jukung yang dikemudikan Faisal (46), yang kedapatan mengangkut 3000 ekor Ketam Tapal Kuda pula, di Perairan Sembilang.

Ada pun tersangka Saiful (46) diketahui sebagai warga Sungai Sembilang, Dusun V, Desa Sungsang IV, RT 02/03, Kecamatan Banyuasin II, Banyuasin. Sedangkan tersangka Faisal merupakan warga Tanjung Jabung Barat, Jambi.Berikut barang bukti diamankan 8000 ekor Ketam Tapal Kuda, sekaligus 2 kapal jukung yang digunakan tersangka untuk menyelundupkan satwa laut dilindungi tersebut.

Pengungkapan penyelundupan satwa laut yang dilindungi dan terancam punah tersebut, berawal dari Minggu (5/3) sore kemarin, atas kecurigaan terhadap kapal jukung MS Robi Ayu yang dikemudikan Saiful, saat melintas di Perairan Tanjung Kampar, Sungsang, Banyuasin. Kemudian ketika dihentikan dan diperiksa, didapatkan 3,5 ton Ketam Tapal Kuda dalam kapalnya, Saiful sang pengemudi kapal tidak bisa menunjukan dokumen dan surat izin angkut satwa laut dilindungi tersebut.

Kapolda Sumsel Irjen Pol Agung Budi MSi didampingi Dir Pol Air Polda Sumsel Kombes Pol Robinson Siregar SIk, semua satwa laut jenis Ketam Tapal Kuda tersebut dibeli para tersangka dari para nelayan di Perairan Taman Nasional Sembilan, Banyuasin.

“Untuk per-ekornya dengan berat dibawah 5 ons itu dibeli Rp 5 ribu. Kalau yang di atas itu dibeli Rp 15 ribu. Oleh kedua tersangka Ketam Tapal Kuda ini akan dikirim ke Palembang. Selanjutnya diangkut lagi kapal kontainer yang lebih besar untuk diselundupkan ke negeri Jiran Malaysia,” jelas Agung.

Harga Ketam Tapal Kuda, bisa melonjak sesuai kebutuhan dan musim. “Disini ketam diatas 5 Ons yang mati dibeli Rp 15 ribu, tapi yang hidup sampai Rp 60 ribu. Sedangkan di malaysia jauh lebih mahal, dari Rp 100 ribu sampai Rp 250 ribu,” timpal mantan Kapolda Kalimantan Selatan ini.

Sementara keterangan Kepala Resort BKSDA Palembang Andre mengatakan, dari Ketam Tapal Kuda masih hidup ini, hanya tinggal 57 ekor saja, ribuan lainnya mati.

“Bagi Ketam Tapal Kuda yang masih hidup telah dilepaskan di perairan Sembilang dan yang telah mati akan dikuburkan. Populasi dan habitatnya Ketam Tapal Kuda terus menurun, maka untuk menjaga kelestariannya, satwa laut ini masuk hewan air yang dilindungi” ungkapnya.

Langkah pencegahan juga sudah sering diberikan kepada masyarakat dan nelayan dikawasan perairan Banyuasin. “Sosialisasi sudah kerap kita lakukan kepada warga perairan, karena Ketam atau warga disana menyebutnya Bungkak, sering diburu warga sekitar Sungai Sembilang,” terangnya.

Bungkak atau Ketam, pada umumnya diburu saat tengah telur dan hidup. Karena harganya lebih mahal, bila di
di Malaysia sendiri, telur tapal kuda dijadikan santapan nikmat dengan harga tinggi. Sementara di negeri eropa, darah dari tapal kuda dijadikan sebagai serum mencegah penyakit minghitis. Kemudian Ketam yang mati, lebih murah dan bisa  digunakan untuk umpan pancing.

Terpisah pengakuan tersangka Saiful, sejak Januari 2017 setidaknya sudah keempat kalinya ia mengirimkan ketam Tapal Kuda ke Palembang. Namun tidak tahu bila Bungkak tersebut masuk satwa laut yang dilindungi.

“Aku beli seharga Rp 37 Juta, dengan modal tambahan dari warga Medan Rp 10 Juta. Kalau sekali angkut dapat upah Rp 1,5 juta kepada pengepul di Palembang Jakabaring, lalu dikirim ke Malaysia,” ungkapnya.

Atas tindakannya itu para tersangka, dijerat Pasal 40 ayat 2 dan UU No 5 tahun 1990, tentang memiliki, menguasai, memelihara, mengangkut dan meniagakan satwa yang dilindungi dalam keadaan hidup atau mati, dengan hukuman 5 tahun pidana penjara dan denda Rp 100 Juta.(korankito.com/kardo).