Pengrajin Kain Tenun Keluhkan Bahan Baku

Palembang – Pemerintah kota (Pemko) Palembang akan menjadikan moment Asian Games 2018 mendatang sebagai moment yang tepat untuk mengenalkan kain khas Palembang. Rencananya nanti Pemko Palembang akan bekerjasama dengan hotel-hotel untuk menyediakan stand khusus sebagai tempat memajangkan kain-kain tradisional khas Palembang.

“Selain dipajang dihotel juga bisa dipajang saat pameran-pameran bagi pengrajin yang akan memasarkan produk mereka. Nantinya kain-kain ini bisa dijadikan oleh-oleh tamu saat Asian Games nanti. Mudah-mudahan kain tradisonal khas Palembang semakin terkenal hingga ke kancah internasional,” ungkap Wakil Walikota Fitrianti Agustinda saat berkunjung di Centra Tenun dan Tajung Jalan Aiptu Wahab Kelurahan Tuan Kentang Kecamatan Seberang Ulu I (SU I), Kamis (9/3).

Dalam waktu dekat ini Pemko Palembang akan membukukan dan memasukan kain tradisonal khas kota pempek ke dalam kurikulum sekolah. Hal ini untuk melestarikan produk khas Palembang

“Songket ini ada makna filosofinya, misal ada songket dengan motif tertentu khusus dipakai oleh janda, atau kain yang khusus dipakai dalam suasana duka. Kain-kain tradisional ini ternyata ada sejarahnya. Kita perlu mengetahuinya. Jangan sampai kita salah pakai,” jelasnya.

Untuk itu Pemko Palembang berencana akan menerbitkan buku yang membahas tentang sejarah  kain tradisional khas Palembang. Bukan hanya itu saja wawasan tentang kearifan lokal juga akan dimasukkan dalam mata pelajar di sekolah-sekolah.

“Kita akan bekerjasama dengan Dinas Pendidikan Palembang, untuk mengenalkan songket, jumputan, blongsong, tajung, atau kain tradisional lain kepada anak-anak sekolah. Rencananya juga akan dimasukan dalam kurikulum,” imbuhnya.

Dengan demikian, anak-anak sekolah akan menganal kain tradisional khas Palembang dan mengetahui keberadaan industri UMKM ini. Sekaligus  Anak-anak sekolah ini bisa belajar membuat kain tradisional,” ujarnya.

Namun, yang terpenting dari ini semua yakni adanya langkah pemerintah unik mempatenkan motif-motif dari kain tradisional tersebut. “Kalau songket sudah, yang lain-lain juga harus di patenkan. Jangan sampai negara lain mengklaim karya kita,”  ucapnya.

Menurut Fitri, kain tradional sangatlah  bagus tak kalah dengan kain modern lainnya. Bahkan, kain tradisonal disukai banyak orang dan cocok untuk dibuat berbagai jenis baju.

“Alhamdulillah bagus-bagus sekali kainnya, saya suka. Saya tadi saksikan langsung bagaimana membuatnya, dan ternyata susah, wajarlah kalau mahal harganya,” ungkap Finda.

Terkait langkah pemasaran, Finda pun mengetahui ada beberapa kendala pengrajin kain tradisonal di Palembang, salah satunya terkait sulitnya bahan baku. “Sekarang kita sudah tahu kendalanya, kedepan harapan kami jangan sampai ada lagi pengrajin yang susah mendapatkan bahan baku,” ungkapnya.

Sebelum pulang, Finda menyempatkan memborong sejumlah kain para pengrajin. Pemilik Centra Tanun dan Tajung, H Udin Abdillah, membenarkan bahwa beberapa bahan baku pembuatan kain tradisonal harus didatangkan dari luar kota.

“Benang susah dapatnya dari Cina ke Surabaya, baru ke Palembang. Kita sudah tangan ke 3, makanya harganya mahal. Begitu juga dengan pewarna mendatangkan dari luar kota,” jelas Udin. (korankito.com/ria)