Kasus Suap Banyuasin: Kirman Menyesal Menerima Titipan Uang

Sidang kasus suap Banyuasin yang melibatkan Bupati Banyuasin non aktif Yan Anton Ferdian, Rabu (8/3). Foto/ria

Palembang – Pengadilan Tipikor Palembang Kembali menggelar sidang kasus suap Banyuasin yang melibatkan Bupati Banyuasin non aktif Yan Anton Ferdian, Rabu (8/3).

Sidang yang beragendakan mendengar keterangan saksi Kirman yang merupakan Direktur dari PT Aji Sai untuk terdakwa Yan Anton Ferdian, Umar Usman, Rustami dan Sutaryo mengungkapkan ada kesepakatan antara dirinya dengan Rustami dimana ia selalu memberikan fee sebesar 10 persen kepada Rustami.

Dalam kesaksiannya Rustami mengatakan fee 10 persen ini diminta Rustami berdasarkan nilai kontrak yang telah disepakati sebelumnya. Dimana rincian dari fee 10 persen tersebut, 5 persennya akan diberikan kepada Rustami, 5 persen kepada dinas.

“Selain itu juga ada sebesar 2 persen yang diberikan untuk ULP panitia lelang yang saya serahkan melalui dinas,” dimuka persidangan sembari menjelaskan proyek-proyek yang ditanganinya berupa pembangunan jalan di PUBM pada tahun2015, pembangunan gedung di Dinas Pendidikan Banyuasin Tahun 2015.

Saat terjadinya Operasi Tangkap Tangan (OTT) Kirman mengakui kalau ada uang yang sebelumnya ia ambil dari Sutaryo sebesar Rp 1 miliar yang sudah digunakan untuk membayar tiket haji Yan anton Ferdian kepada PT Tourisina sebesar Rp 531.600.000. Lalu Rp 300 juta dan Rp 150 juta yang ditukarkan menjadi pecahan uang dolar sebesar 11.200 US Dolar yang digunakan juga untuk uang saku Yan Anton Ferdian.

“Uang 1 miliar saya terima dipinggir jalan Perikanan Swadaya Kecamatan Kemuning, Palembang, uang itu berada di tas ransel. 8 juta diberikan ke Medi pegawai rumah dinas bupati, di pinggir jalan depan BCA,” katanya

Sedangkan sisanya dibawa KPK yakni, Rp 670 juta. Dirumah ada Rp 500 juta dari Abi Hasan Kepala Dinas PU Bina Marga yang ia terima setelah 1 miliar 2016. Abi Hasan memberikannya melalui Reza di dinas PUBM, 115 juta dari Yosep Kepala Dinas PUCK yang semuanya di Tahun 2016.

“Sebelumnya saya tidak tahu sumber 1 miliar itu. Tapi setelah tertangkap KPK baru tahu itu dari Direktur CV Putra Pratama Zulfikar Muharami (terpidana),” katanya.

Bahkan pengambilan uang dari dinas dan rekanan berdasarkan perintah Rustami. Bukan hanya itu Ia juga mau menjadi tempat penitipan uang berdasarkan permintaan Rustami dan bila dibutuhkan Yan Anton baru diambilkan.

“Saya sangat menyesal menerima titipan titipan uang yang tidak benar itu,” tutupnya. (korankito.com/ria/***)