Bisa Dipercaya

KI Linggau Kirim 24 Relawan Pengajar ke Mura

Foto/dhia

LUBUKLINGGAU- Kelas Inspirasi Kota Lubuklinggau mengirimkan 24 orang relawan tenaga pengajar untuk mengajar dan memberikan inspirasi kepada murid-murid sekolah dasar di wilayah Kabupaten Musi Rawas,Senin (6/3).

Dari ke-24 relawan yang telah melalui proses seleksi pendaftaran melalui online tersebut dibagi menjadi 4 tim masing-masing berisi 6 orang. Relawan ini berasal dari berbagai profesi, seperti bidan, perawat, guru, pengusaha,mahasiswa, dosen dan bahkan wartawan pun terpilih menjadi relawan pengajar kelas inspirasi Lubuklinggau tahun 2017.

Ketua kelas inspirasi Kota Lubuklinggau, Melissa,Senin (6/3) menjelaskan bahwa pembagian tim telah dilakukan saat briefing relawan dua hari sebelum terjun kesekolah-sekolah.

Tim pertama beranggotakan 6 relawan pengajar, dua fasilitator dan satu dokumentator ditugaskan ke SD Negeri Suko Rejo, kemudian tim kedua ke SDN Suka Cinta, tim ketiga ke SDN Sumber Harta dan tim keempat ke SDN Jambu Rejo.

” Masing-masing tim bergerak dari tadi pagi setelah sholat Shubuh menuju ke SD, ikut menjadi petugas upacara bendera disekolah juga, kemudian baru mereka mengajar dan menginspirasi anak-anak untuk membangun mimpi anak-anak di Musi Rawas,”terangnya.

Kelas Inspirasi sendiri mengemban misi untuk siap menginspirasi dan membangun mimpi anak-anak negeri, agar memiliki mimpi dan cita-cita yang tinggi, kemudian bersemangat pantang menyerah dalam meraih mimpi dan cita-cita tersebut.

Setiap relawan pengajar mendapat tugas mengajar dan menginspirasi anak-anak sebanyak dua kelas selama 45 menit per-kelasnya. Disinilah, anak-anak dibakar semangatnya dan diberikan doktrin positif membangun mimpi dan cita-cita setinggi langit.

” Disini kita tanamkan optimisme kepada anak-anak, bahwa mimpi dan cita-cita itu harus kita miliki dan bisa terwujudkan dengan kerja keras dan semangat tinggi dalam menggapainya,” kata Prades, salah satu relawan pengajar yang berprofesi sebagai Jurnalis.

Dijelaskannya, anak-anak diberikan kertas bergambarkan pesawat untuk menuliskan nama dan cita-cita, kemudian secara bergantian akan ditempelkan di kain langit mimpi yang telah disiapkan sebelumnya.

“Disini saya melihat bahwa-bahwa anak-anak di desa, yang jauh dari pusat kota memiliki semangat juga untuk bercita-cita, namun mereka butuh bimbingan dan penguatan, mereka harus selalu diberikan rasa optimisme bahwa anak desa bisa meraih cita-cita,”pungkasnya.(korankito.com/dhia)