17 KTI di Indonesia ikuti NASA

Palembang – Sebanyak 17 karya tulis ilmiah (KTI) dari berbagai perguruan tinggi (PT) di Indonesia ikuti National Scientific Days (NASA) yang diselenggarakan oleh unit kegiatan mahasiswa (UKM) Mars Politeknik Sriwijaya (Polsri) Palembang.

Kegiatan yang berlangsung 7-9 Maret 2017 ini, akan diisi dengan seminar nasional tentang teknologi bertema ‘Peranan Teknologi Dalam Pengembangan Mahasiswa’ dengan pembicara dari salah seorang pakar IPTEK Ilham Akbar Habibie putra sulung mantan Presiden RI ketiga. Lalu hari selanjutnya akan ada presentasi dan pameran dari prototipe dari KTI yang mereka tulis.

Ketua UKM mahasiswa riset dan sains (Mars) Polsri Ahmad Hafizh wijanarko mengatakan, kegiatan NASA Mars ini adalah lomba KTI (LKTI) tingkat nasional dan seminar nasional pertama dibidang teknologi, dimana ada 17 proposal dari 17 PT diantaranya UGM, UNY, UNPAD, Telkom University di Bandung, Ahmad Dahlan, USU, UNJ, UNS , Poltek Negeri Jember dan lain-lain.

“LKTI ini bertema tentang peranan teknologi dalam membangun bangsa dan ini merupakan acara nasional pertama dan akan diagendakan tiap tahunnya,” jelasnya disela kegiatan, Selasa (07/03).

Dikatakannya, sebelum mendapatkan 17 finalis pihaknya melakukan penyeleksiannya dengan pengumpulan abstrack dari berbagai PT di Indonesia.

“Kemarin ada 173 abstrak yang masuk, lalu diseleksi menjadi 100 abstrak. Kemudian mereka mengirim KTI yang sebenarnya untuk diseleksi kembali yang akhirnya menjadi 17 finalis dengan Tim penilainya dari Pemprov Sumsel, Pemkot Palembang dan dosen Polsri,” tambahnya.

Hal senada diungkapkan oleh Direktur Polsri Palembang Ahmad Taqwa, kegiatan ini digagas oleh UKM mars dalam rangka peningkatan penulisan KTI.

“Tujuannya untuk membuka pola pikir mahasiswa Polsri agar mereka tidak hanya mengkonsumsi teknologi tapi bisa menciptakannya,” tukasnya.

Selain itu, pemateri seminar nasional teknologi  Ilham Akbar Habibie mengatakan, potensi mahasiswa di Sumatera Selatan (Sumsel) dalam bidang teknologi cukup tinggi, maka dari itu pihak pemerintah dan kampus sendiri harus memberikan dukungannya terhadap mereka.

“Setidaknya dari kurikulum bahkan metode pembelajaran harus disesuaikan dengan kemajuan teknologi. Seandainya dosennya berhalangan hadir di kelas, maka perkuliahan masih tetap berlanjut melalui Vidio konferensi,” tuturnya. (korankito.com/eja)