Cara Mengatasi Anak yang Takut di Sunat

Ilustrasi/cyberdakwah.com

Bersunat atau berkhitan bagi anak laki laki yang berusia antara 5-7 tahun terkadang menjadi permasalahan tersendiri untuk para orangtua.

Nah. Dibawah ini kami sampaikan beberapa cara agar anak yang akan disunat bisa dikhitan tanpa harus ada pemaksaan apalagi sampai harus ada ancaman terhadap si anak:

Berikut tips dan caranya:

1.Katakan pada anak, sunat tidak menimbulkan rasa sakit
Cara sederhana ini kadang dapat langsung diterima oleh anak. Tetapi, jika si anak malah merasa sedang dibohongi. Ada baiknya jujur saja pada anak dengan menjelaskan bahwa Sunat memang terasa sakit, tetapi hanya sebentar saja kok, rasa sakitnya hanya seperti digigit semut saja.

2.Jelaskan dengan sederhana kepada anak, bahwa “sunat merupakan kewajiban bagi seorang laki-laki supaya ibadah kita lebih sempurna”. Sedangkan bagi non-muslim“ sunat dapat menjaga kesehatan tubuh dari infeksi virus, jamur dan bakteri patogen”. Anak-anak di usia 7-12 tahun sudah dapat menerima penjelasan demikian, walaupun bayang-bayang takut sunat masih ada di dalam benak mereka.

3.Beri iming-iming hadiah pada anak tersebut          
Tak bisa dimungkiri, dengan cara apa pun proses khitan tetap menimbulkan rasa sakit, baik pada saat tindakan maupun pada saat proses penyembuhan luka. Banyak orangtua yang mencari cara gampang agar anak mau disunat dengan mengatakan sunat itu tidak sakit. Tentu saja ini tak benar. Anak pun akan merasa dibohongi setelah merasakan sendiri disunat.

Pada adat lokal, masyarakat menjanjikan pemberian hadiah serta upacara-upacara lain saat khitanan anak. Kemeriahan khitanan anak yang diwarnai suka cita, keceriaan dan bergembira ria akan selalu terkenang di dalam benak anak. Bayang-bayang takut sunat pada anak akan tenggelam oleh kemeriahan upacara khitanan anak. Penyelenggaraan sunat anak akan lebih mudah tercapai oleh orang tua.

4.Sebelum hari-H, anak diisolasi dari teman-teman dan saudara lainnya selama satu hari. Anak dijauhkan dari pengaruh perkataan teman-teman dan saudara lainnya yang menakut-nakuti anak tersebut. Pada saat itu, si anak biasanya memiliki keinginan dan kemauan.

Penuhi apapun keinginan anak selama orang tua mampu dan masuk akal. Cara demikian meminimalkan sunat anak dari penolakan dan pemberontakan anak tersebut.(korankito.com/berbagaisumber/***)