Palembang Kehilangan Satu Destinasi Wisata

Museum Tekstil. Foto/ist

Palembang – Museum Tekstil merupakan salah satu museum yang masuk dalam titik destinasi wisata Kota Palembang yang bisa dikunjungi. Dibangun tahun 1883 atau tepatnya di jaman penjajahan Belanda, museum yang berada di tengah-tengah pusat Kota Palembang dulunya menjadi pusat beragam kerajinan kain dari Sumatera Selatan, seperti songket beserta alat tenunnya.

Namun kini keberadaan museum tersebut tampaknya hanya tinggal kenangan. Pantauan korankito.com, Kamis (2/3), tampak bangunan museum bersejarah tersebut sudah tidak dibuka lagi dan terkesan kurang perawatan. Pun demikian bagian luar gedung yang terlihat kusam karena sudah lama tidak tersentuh cat.

Bahkan disebelah museum sendiri saat ini sudah berdiri kantor BPKAD milik Pemprov Sumsel. Salah satu pegawai di kantor tersebut yang tidak mau disebutkan namanya mengatakan museum tekstil tersebut akan direnovasi dalam waktu dekat. “Jadi mulai Januari tadi sudah tidak boleh ada aktivitas pemotretan di area museum,” ujarnya.

Meski mengatakan bangunan museum tersebut akan direnovasi, namun ia tidak mengetahui peruntukan bangunan nanti setelah direnovasi. “Berkemungkinan akan dibangun kantor tapi tidak tahu kantor apa,” katanya.

Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan Kota Palembang melalui Kasi Permuseuman dan Bangunan Sejarah Dinas Kebudayaan Kota Palembang, Nyimas Ulfa mengatakan, meskipun keberadaan Museum Tekstil ada di tengah-tengah Kota Palembang, namun untuk pengelolaan sendiri ada di Pemerintah Provinsi Sumsel. Sedangkan museum yang berada di bawah pengawasan dan pengelolaan pihaknya hanya Museum Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) II Palembang.

“Dulunya ada dua museum yang berada dibawah pengelolaan kita Monpera dan SMB II Palembang. Sejak pemisahan ini, kita hanya mengelola Museum SMB II saja, sedangkan Monpera berada di bawah pengelolaan Dinas Pariwisata,” terangnya.

Untuk perawatan museum sendiri jelas Ulfa, pemeliharaan koleksi-koleksi yang ada di museum akan dirawat berdasarkan tingkat kerusakan. Dikarenakan untuk melakukan sesuai standar permuseuman dimana harus ada laboratorium dan tenaga ahlinya, terang Ulfa perawatan pun hanya dilakukan seadanya.

“Untuk koleksi-koleksi yang mulai tampak rusak, tidak kita pajang dulu selama kita melakukan perawatan. Setelah selesai perawatan dan koleksi sudah bersih dan bagus lagi, baru akan kita pajang lagi,” tukasnya.

Seperti diketahui berdasarkan data dari Dinas Pariwisata Kota Palembang, ada 51 titik destinasi wisata yang ada di Kota Palembang. Dari ke-51 titik tersebut, ada beberapa destinasi wisata yang termasuk kedalam destinasi wisata sejarah dan budaya seperti museum. Untuk Kota Palembang terdapat empat museum yang bisa dikunjungi seperti Museum Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) II, Museum Tekstil, Museum Pusri dan Museum Balaputradewa. (korankito.com/ria)