Untuk Berangkat Haji, Yan Anton Minta Duit ke Bawahan

Terdakwa korupsi Bupati Banyuasin nonaktif Yan Anton Ferdian saat hendak menjalani persidangan.foto/ria

Palembang-Pengadilan Tipikor Palembang kembali menggelar sidang suap ijon proyek di Kabupaten Banyuasin dengan terdakwa Bupati Banyuasin nonaktif Yan Anton Ferdian, Kamis (2/3).

Sidang kali ini mendengarkan kesaksian Yan Anton Ferdian. Dalam kesaksiannya Yan Anton berulangkali meyatakan menyesal dan meminta maaf atas perbuatan yang telah dilakukannya.

“Sebagai orang yang memimpin sebuah kabupaten, secara pribadi saya mengakui bahwa telah melakukan kesalahan. Saya sudah membuat malu pribadi keluarga dan seluruh masyarakat kabupaten. Untuk itu saya mohon maaf yang sebesar-besarnya,” ujar Yan Anton.

Setelah mendengarkan seluruh keterangan saksi, Yan Anton mengaku memang sudah sesuai dengan yang disampaikan oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU). Hanya saja, ia tidak bisa mengingat keseluruhan terkait permintaan ia pribadi baik secara langsung maupun melalui Rustami dan Firman. “Jika pun ada catatan atau ada bukti keterangan dari saksi lain apabila dianggap benar, maka saya pun akan mengakuinya,” ungkapnya.

Disinggung soal rencana Yan Anton ingin berangkat haji tak lama sesudah ia ditangkap KPK, sumber uang yang akan digunakan tersebut dimintanya dari Rustami yang pada saat itu menjabat sebagai Kasubag Rumah Tangga Bupati Banyuasin. “Rencana naik haji sama istri saya. Saat itu biayanya satu orang sekitar Rp531 juta untuk dibayar ke travel. Saya meminta saudara Rustami untuk mencarikan sejumlah uang tersebut,” jelasnya.

Setelah mendapat instruksi darinya, Rustami langsung mengumpulkan dana dari setiap SKPD melalui Kepala Dinas Pendidikan saat itu yang dijabat Umar Usman. Yan Anton pun mengakui ia masih mempunyai hubungan kekerabatan dengan Rustami. “Akhirnya terkumpul Rp1 miliar. Saya tahu uang tersebut Pak Usman. Namun saya tidak tahu sumbernya darimana. Uang tersebut langsung ditransfer Rustami ke rekening travel sebesar Rp531 juta,” ungkapnya.

Setelah ditransfer sebagian, Yan Anton kemudian memerintahkan Rustami untuk menemuinya di daerah Mariana. Saat itu kebetulan ada program kerja dari PU Cipta Karya. Dalam acara tersebut Yan Anton menanyakan kepada Rustami apakah sisa uang sudah ada atau belum. “Pada saat itu Rustami belum bawa sisa uangnya, namun kemudian sisa uang yang ada disimpan di Poligon. Selanjutnya dari Poligon dibawa ke Banyuasin,” terangnya.

Yan Anton menambahkan, meskipun ia tak ingat lagi secara pasti, namun yang pasti uang tersebut digunakan untuk keperluan pribadi seperti membeli keperluan mobil, motor dan renovasi rumah. “Beberapa barang pribadi yang saya gunakan tersebut baik secara langsung maupun tidak, sudah saya serahkan kepada KPK dan atas inisiatif saya sendiri sudah dikembalikan,” ujarnya.

Ia pun membeberkan barang pribadi yang sudah dikembalikan seperti uang Rp1,2 miliar, 4 mobil, 2 motor dan rumah. “Saya sangat menyesal dan tidak akan mengulanginya lagi. Sebagai pribadi dan terdakwa, saya harap diberikan tuntuan dari JPU seringan-ringannya,” ujar Yan Anton.korankito.com/ria