Disdik Palembang Minta Pemkot Keluarkan Perwali Muatan Lokal

Kasi Kurikulum SD Disdik Kota Palembang, Surmana. Foto/Eja

Palembang – Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Palembang akan mengusulkan disusunnya Peraturan Walikota (Perwali), tentang konten kearifan lokal atau lokal wisdom, pada mata pelajaran muatan lokal untuk sekolah dasar (SD).

Kepala Seksi (Kasi) Kurikulum SD Disdik Kota Palembang Surmana menilai, selama ini materi dalam muatan lokal yang diberikan kepada siswa di sekolah, hanya sebatas baca tulis Al-Qur’an ataupun pengarahan bahasa asing.

Maka dari itu, pihaknya berinisiatif untuk lebih menekankan konten kearifan lokal atau lokal wisdom sejak dini kepada siswa, mengingat semakin tergerusnya budaya lokal dengan budaya asing. Dalam silabus ini, ada pengenalan budaya lokal Palembang seperti mengunjungi Sungai Musi, Pulau Kemarau, Rumah Bari dan kuliner yang menjadi kekayaan yang dimiliki Kota Palembang.

“Kita ingin muatan lokal bisa menjadi sarana bagaimana memelihara kurikukum daerah seperti kuliner, demografi, sejarah dan budaya yang bisa memperkaya anak didik mengenai pengetahuan berwawasan lingkungan dan lain sebagainya,” terangnya, Kamis (2/3).

Dikatakannya, saat ini usulan sudah diajukan kepada Walikota Palembang dan masih dalam tahapan proses. “Penerapannya sendiri akan dimulai dari kelas I hingga VI SD negeri dan swasta di Kota Palembang, kalau sudah ada Perwali,” tegasnya.

Menurutnya, keberadaan kurikulum berbasis lokal ini akan memperkaya kurikulum nasional dengan perpaduan rancangan dari pusat dan daerah. Jika memang nanti Perwali sudah disahkan, maka sebelum pelaksanaan, pihaknya akan mensosialisasikan dan mengadakan pelatihan untuk guru.

“Guru akan diberi pelatihan untuk jadi instruksturnya. Namun harus dilakukan pemetaan dulu potensi yang ada di kota Palembang. Walaupun pada 2017 belum dianggarkan, target kita usulan ini bisa diterima dan diterapkan pada tahun selanjutnya,” harapnya.

Sementara itu, Kepala SDN 140 Palembang Mulyadi menuturkan, kalau memang untuk lebih mengenalkan kearifan lokal kepada siswa, itu sangat baik. Namun jika itu sudah menjadi ajang bisnis, maka dapat memberatkan orangtua siswa kecuali semuanya dikelola oleh sekolah.

“Mengenalkan budaya lokal itu sangat baik, namun karena belum ada pos anggarannya takutnya akan memberatkan orang tua. Kecuali sudah ada pos anggaran dari Disdik dan dikelola langsung oleh sekolah agar tidak menjadi ajang bisnis,” tambahnya. (korankito.com/eja)