Unsri Sediakan Kuota 30% Bagi yang Lulus USM

Rektor Unsri Anis Saggaf.foto/ejak

 

Palembang-Universitas Sriwijaya (Unsri) tetap membuka ujian saringan mandiri (USM) tahun ajaran 2017, dengan penerimaan 30 persen dari total kuota penerimaan mahasiswa baru.

Unsri tetap siapkan 30 persen kursi untuk USM, meski ada beberapa perguruan tinggi negeri yang meniadakan USM dalam penerimaan calon mahasiswa baru 2017, seperti Universitas Indonesia (UI).

Kepada korankito.com, Rektor Unsri Anis Saggaf menerangkan, pihaknya dan beberapa rektor PTN lain tetap menyediakan kursi sebanyak 30 persen dari kuota penerimaan melalui USM. Hal ini guna memberikan kesempatan bagi pelajar di Sumatera Selatan untuk melanjutkan kuliah di Unsri.

Berdasarkan Undang Undang nomor 12, kuota untuk nasional melalui seleksi nasional masuk perguruan tinggi negeri (SNMPTN) dan seleksi masuk bersama perguruan tinggi negeri (SBMPTN) itu 50 persen dari kuota penerimaan.

“Kita sudah rapatkan dengan rektor PTN lain untuk tetap menyediakan kuota USM, sebab kuota untuk nasional melalui SNMPTN maupun SBMPTN sudah dinaikkan menjadi 70 persen dari arahan Kemristek-Dikti yang awalmya hanya 50 persen. Hal ini kami lakukan untuk lokal wisdom, karena kalau ditiadakan nanti kesempatan masyarakat Sumsel untuk kuliah di Unsri semakin berkurang,” ujarnya usai menghadiri pelantikan pengurus Alisa Khadijah ICMI Sumsel di hotel Duta Syariah Palembang, Minggu (26/02).
Menurutnya, melalui USM ini tidak menutup kemungkinan pelajar dari luar Sumsel untuk mengikutinya, yang tentu saja untuk administrasi dan ujiannya harus datang langsung ke Unsri.

 

“USM juga terbuka untuk pelajar dari luar Sumsel, namun ujiannya harus di sini (Unsri-red) berbeda dengan seleksi dan ujian melalui SNMPTN maupun SBMPTN,” tegasnya.

 

Tahun ini Unsri menambah 240 kursi tambahan di dua program studi (prodi) di Fakultas Pertanian dan dua prodi lagi di Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM), sehingga kuota yang awalnya berjumlah 5.800 kursi, kini menjadi 6.040 kursi.

 

Sedangkan untuk prodi lain kuotanya sama seperti dulu, sebab pihaknya menjaga agar akreditasi tidak anjlok dengan perbandingan dosen dan mahasiswa 1:30 untuk eksak dan 1:35 untuk sosial.
“Kita berencana untuk menambah angka partisipasi kasar (APK), namun karena belum ada penambahan dosen maka kita tetap pada kuota yang tersedia saat ini. Kalau ada penambahan satu dosen di satu prodi saja dapat menambah 10 kursi lagi untuk mahasiswa baru,” tambahnya.korankito.com/ejak