Jaya Putra Jabat Asdatun Kejati Kalbar

Jaya Putra, mantan Kajari Lubuklinggau.foto/dhia

 

Lubuklinggau-Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari) Lubuklinggau, Jaya Putra melepas jabatannya. Ia akan mengisi jabatan baru sebagai Asisten Perdata dan Tata Usaha Negara (Asdatun) Kejaksaan Tinggi (Kejati) Provinsi Kalimantan Barat (Kalbar).

Selama delapan bulan, Jaya Putra sebagai Kajari Lubuklinggau yang menaungi wilayah hukum Kota Lubuklinggau, Kabupaten Musirawas dan Muratara.

Pada pertengahan Juni 2016, Ia menjabat Kajari menggantikan Patris Yusrian Jaya yang promosi menjadi Aspidsus Kejati Bangka Belitung. Jaya Putra tercatat sebagai Kajari ke-20 sejak Kejari Lubuklinggau berdiri tahun 1975, dan Kajari pertama berstatus Tipe A setelah mendapatkan Juara I Shidakarya tahun 2015.

Jaya Putra mengatakan, kendati masa tugasnya di Lubuklinggau terbilang singkat, namun banyak menyimpan cerita dan kesan terhadap kariernya.

“Syukur saya dapat tugas baru di Pontianak Kalbar. Saya juga jadi Kajari pertama tipe A di Kejari Lubuklinggau ini. Media harus bisa bekerjasama dengan Kajari baru, Ibu Zairida, pindahan dari Kajati Kepulauan Riau,” ujarnya.

Ia menceritakan, saat baru masuk di Linggau sudah banyak pekerjaan rumah yang harus dilanjutkan. Seperti kasus korupsi, tindak kriminalitas dan Memorandum of Understanding (MoU) ke tiga pemerintahan.

“Syukur MoU masih akan dilanjutkan Kajari baru. Tuntasnya beberapa kasus korupsi dan kriminalitas, masih ada PR juga terhadap satu buron korupsi PNPM Muratara dan buron otak pembunuhan yakni Dedi Irama. Termasuk menuntaskan beberapa kasus yang jadi atensi Kejati, seperti pencabulan, pembunuhan oleh Tansiro dkk,” jelasnya.

“Tertinggi kasus 365 KUHP, yang semakin marak sekali dan jadi perhatian khusus. Dominannya kasus 365 ini bermuara pada tindak penyalahgunaan narkoba,” pungkasnya.korankito.com/dhia