360 Dosen Unsri Bakal Bergelar Guru Besar

Rektor Universitas Sriwijaya, Anis Saggaff. Foto/eja

Palembang – Sebanyak 360 dosen Universitas Sriwijaya (Unsri) yang saat ini bergelar doktor dan memiliki golongan lektor kepala akan segera menyandang gelar guru besar.  Gelar guru besar itu akan segera diberikan jika para dosen itu menyelesaikan sebuah tulisan ilmiah atau jurnal yang terindeks internasional sebagai salah satu syarat menjadi guru besar.

“Untuk membantu mereka agar dapat segera menyelesaikan tulisan tersebut, kami menyiapkan unit penulisan imiah dan publikasi. Setidaknya saya menargetkan pada akhir 2017 ini jumlah guru besar Unsri akan bertambah lagi sebanyak 50 orang,” ungkap Rektor Unsri Anis Saggaff, Minggu (26/02).

Menurut Anis, penambahan jumlah guru besar itu perlu dilakukan sebagai salah satu upaya untuk mendapatkan status word class university (WCU). Selain itu, sebagai langkah untuk mempertahankan bahkan meningkatkan akreditasi A yang saat ini pihaknya sandang. Sayangnya, meskipun publikasi Unsri sudah banyak, tapi masih mengantri untuk mendapatkan publisher internasional.

“Saat ini kita sudah punya enam publisher dalam bidang hukum. Jumlah publisher ini akan ditambah lagi agar bisa mengayomi semua bidang program studi yang ada. Serta bisa dimanfaat bagi semua dosen yang belum memiliki publikasi internasional,” ungkapnya.

Selain iu, , Anis menambahkan, pada 2017 ini saja akan ada 10 konferensi internasional yang dilakukan Unsri baik bidang konstruksi, komputer sains, maupun bidang pendidikan matematika. Melalui konferensi ini, pihaknya berharap agar bisa memfasilitasi dosen yang ingin menulis dan mempublish jurnal internasional.

“Kegiatan ini juga bisa memberikan fasilitas bagi dosen yang memiliki kendala dalam publikasi agar bisa mendapatkan kesempatan memilikinya. Sehingga Unsri bisa mengikuti berbagai event tingkat dunia yang dampaknya nanti dapat meningkatkan peringkat Unsri ditingkat dunia,” bebernya.

Sementara itu, pengamat pendidikan Muchtaruddin Muhsiri mengatakan, untuk di wilayah Sumsel saat ini masih minim publish bertaraf internasional, bahkan baru Unsri yang memiliki publisher internasional. Pasalnya, yang menjadi kendala bagi dosen bukan pada saat melakukan penelitian, namun pada proses mendapatkan indeks internasional yang harus mengantri dan bersaingan dengan seluruh dunia.

“Jadi proses mendapatkan itu akan memakan waktu yang lama, jika Unsri ingin menambah lagi publisher internasional sendiri maka akan sangat baik bagi perkembangan jurnal internasional di Unsri secara khusus maupun Sumsel secara umunya,” tuturnya. (korankito.com/eja)