Bisa Dipercaya

Sidang Ricuh, Terdakwa Jadi Sasaran Bogem Mentah Keluarga Korban

Suasana sidang pembunuhan berakhir ricuh.foto/dhia

 

Lubuklinggau–Sidang kasus pembunuhan dengan terdakwa Bastari alias Tari (51), warga Desa Sido Mulyo, Kecamatan Muara Lakitan, Kabupaten Musirawas, berakhir ricuh, Kamis (23/2).

Tak hanya kursi di ruang persidangan yang diberantakan, kericuhan juga membuat kaca ruang sebelah kanan sidang pecah.Sang terdakwa pun menerima bogem mentah dari keluarga korban.

Aksi keributan dipicu saat  terdakwa Bastari membantah hasil pemeriksaan yang dilakukan polisi. Bahkan, terdakwa mengaku dirinya tidak ada di tempat saat kejadian. Tetapi sedang berada di rumah istri keduanya di Megang Sakti, Kecamatan Megang Sakti, Kabupaten Musirawas.

Usai persidangan, keluarga korban langsung mengerumbungi terdakwa, membanting kursi terdakwa dan langsung melakukan pemukulan. Merasa jiwanya terancam, terdakwa berusaha menyelamatkan diri dari kejaran massa.

Petugas keamanan langsung melakukan blokade. Namun, karena kalah jumlah, Bastari tetap menjadi bulan-bulanan bogem mentah massa hingga terpojok di ruang sidang sebelah kiri.

Persidangan ini dipimpin oleh majelis hakim Syahreza Palpema, didampingi Tatap Situngkir dan Ferdinaldo. Jaksa Penuntut Umum (JPU) Darmadi Edison dan kuasa hukum terdakwa Bastari, Riko Saputra.

“Keluarga korban marah karena terdakwa tidak mengakui perbuatannya, ujar JPU Darmadi Edison.
Terdakwa diseret ke meja hijau lantaran diduga terlibat pembunuhan sadis terhadap korban Feriyanto, di Desa Sidomulyo, Kecamatan Muara Lakitan.

Kasus ini bermula pada 18 September 2015 sekitar pukul 11.30, keponakan terdakwa, Pemi Sartika binti Tansiro ditemukan meninggal dunia. Setelah beberapa hari kemudian, Tansiro mencurigai kalau pelaku pembunuhan adalah Feriyanto bersama Ir Sehingga timbul niat terdakwa bersama-sama dengan Tansiro (sedang menjalani hukuman) bersama LB dan LO (DPO)  untuk membunuh Feriyanto.

Pada Kamis, 24 September 2015 sekitar pukul 22.00, terdakwa bersama dengan kawan-kawannya mengendarai tiga unit mobil, yakni  satu unit mobil merek Nissan Terrano Grand Road XTR warna hijau tua metalik dengan Nopol BG 2133 ND dikemudikan oleh terdakwa bersama LO.

Kemudian mobil Toyota Agya warna putih, lalu mobil Double Cabin Toyota Hilux warna hitam dan satu unit motor jtanpa nopol menuju rumah korban.

Setelah sampai di rumah korban Feriyanto, istri korban Leni Anisa mendengar suara mobil knalpot bising sedang mondar-mandir di depan rumahnya.

Selanjutnya tersangka bersama kawan-kawannya turun dari mobil, dan menuju pintu rumah korban. Lalu Tansiro berkata, “Ini nah preman, keluar kalau kau melawan Yanto Kure, ini nah preman Tansiro lawan kau,” kata Darmadi Edison menirukan ucapan terdakwa dalam persidangan.

Tak lama kemudian Feriyanto membuka pintu rumah, saat itu Tansiro langsung mencabut pistol dari pinggangnya dan langsung menembak Feriyanto. Tembakan itu mengenai dada dan menyebabkan korban Feriyanto sempoyongan.

Lalu terdakwa bersama LB dan LO, yang berada di belakang Tansiro langsung mengepung, dan menembak korban. Sehingga korban terjatuh dan berlumuran darah.

Kemudian, istri korban langsung memeluk korban yang sudah tergeletak lalu membawanya ke tempat tidur anaknya. Saat itu juga istri korban melihat saksi Tansiro memegang pistol dan menembak istri korban, tembakan itu mengenai dada sebelah kanan.korankito.com/dhia