Bisa Dipercaya

Sidang ‘Banyuasin Gate’, Asisten II Kumpulkan Uang dari Para Kepala Dinas

Suasa sidang kasus suap Banyuasin dengan terdakwa Yan Anton Ferdian dengan agenda mendengarkan keterangan saksi, Kamis (23/2).foto/ria

 

Palembang – Sidang kasus suap ijon proyek dengan terdakwa Bupati Banyuasin nonaktif Yan Anton Ferdian kembali digelar di pengadilan Tipikor Negeri Palembang, Kamis (23/2). Dalam sidang hari ini, kembali beragendakan mendengarkan keterangan saksi yang dihadirkan oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) KPK.

Para saksi yang didengar kesaksiaanya adalah Sekda Banyuasin Fanditiawan, Bendahara PUBM Bukhori, Kadis BLH Banyuasin Syahril A Rahman, dan Asisten II Rislani Gafar.

Berita Sejenis
1 daripada 2

Dalam kesaksiannya Asisten II Rislani Gafar mengungkapkan, pihaknya mengumpulkan uang dari seluruh kepala dinas di Pemkab Banyuasin. Pengumpulan uang tersebut merupakan perintah Sekda atas perintah dari Bupati Banyuasin.

“Saya hanya menjalankan perintah dari Sekda untuk mengumpulkan para kepala dinas. Pengumpulan uang ini, menurut Sekda berdasarkan perintah bupati untuk pembahasan APBD dan LKPJ tahun 2015 dan 2016. Tapi saya tidak tahu berapa uang yang terkumpul,” ungkapnya.

Rislani menuturkan, dirinya dan sekda kemudian menghadap bupati. Karena menjadi bawahan bupati, ketika ada perintah bupati yang disampaikan melalui sekda, dirinya selalu menjalankan. Seluruh uang tersebut, nantinya diserahkan kepada ketua dewan dan para jajarannya. “Untuk ketua, wakil ketua serta yang lainnya,” ujarnya.

Sedangkan Sopir Sekda Pandi dalam persidangan mengungkapkan pernah pergi bersama Buchori untuk menemui Mekri Bakri yang saat itu menjabat kepala dinas pendidikan.

“Kami menuggu di lobi hotel, lalu naik ke atas dan bersama-sama ke dalam kamar. Di dalam kamar bertemu Sutaryo dan dia menyerahkan koper kepada Merki. Tetapi koper itu tidak diserahkan langsung ke saya, tetapi baru diserahkan di depan RS Siti Khadijah Palembang,” ungkapnya.

Pandi mengaku juga, beberapa kali diperintah Sekda untuk menemui Sutaryo. Ketika menemui Sutaryo lalu kantong plastik yang berisikan uang diberikan, akan tetapi jumlahnya tidak diketahui.

Bendahara PU Buchori menuturkan, dirinya selalu bersama Pandi untuk mengambil bingkisan baik menemui Merki Bakri maupun menemui Sutaryo.

“Awalnya tidak tahu apa isinya, baru diberitahu kalau bingkisan itu berisi uang. Jumlahnya juga tidak pernah ditanyakan, hanya menyerahkan saja,” ujarnya.

Sedangkan Ketua DPRD Banyuasin Agus Salam yang dihadirkan JPU KPK sebagai saksi persidangan, tetap menyangkal menerima uang pelicin tersebut “Tidak ada” katanya.
Menurutnya dalam pembahasan RAPBD tersebut tak ada satupun permintaan dari dewan ke Pemerintah Kabupaten Banyuasin. “Tidak pernah” ujarnya.

Ketika dicecar oleh Alamsyah Hanafiah, kuasa hukum terdakwa, soal uang tersebut, Agus sempat mengalihkan pertanyaan.

“Saya di sini kapasitas sebagai saksi terdakwa Yan Anton. Kenapa ditanya seperti itu,” ujarnya.

Alamsyah Hanafiah lantas meminta majelis hakim untuk mengkonfrontir Agus dengan saksi -saksi sebelumnya. “Saya harap saksi yang sebelumnya dihadirkan untuk dikonfrontir dengan Pak Agus. Biar semua ini jelas. Karena saksi sudah disumpah dan keterangan saksi menyebutkan jika ada uang pemberian,” katanya.

Sementara itu JPU KPK Roy Riyadi mengutarakan, dari keterangan para saksi sebelumnya, Agus beberapa kali menerima uang pelicin yang jumlahnya mencapai Rp3 miliar. “Ada pemberian uang Rp3 miliar kepada Ketua DPRD dan wakil ketuanya Rp500 juta,” katanya.korankito.com/ria