Bisa Dipercaya

Sumsel Minim Sirkuit Pencak Silat

Pengamat olahraga pencak silat Sumsel M Akib. Foto/Resha

Palembang – Minimnya sirkuit atau kompetisi pencak silat di Sumatera Selatan (Sumsel) menjadi salah satu terputusnya regenerasi para pendekar di Bumi Sriwijaya.

Pengamat olahraga pencak silat Sumsel M Akib menilai, Sumsel sedang lesu kegiatan olahraga pada level daerah. Gaung yang terdengar di olahraga terasa kurang, sehingga lama-lama regenerasi atlet terputus karena minimnya kompetisi yang diselenggarakan. “Oleh karena itu, baiknya Sumsel sesering mungkin mengelar sirkuit pencak silat,” ujarnya Rabu (22/2).

Berita Sejenis
1 daripada 2

Lanjutnya, sirkuit tersebut berupa sistem setengah kompetisi seperti liga sepakbola. Masing-masing 17 kabupaten/kota di Sumsel dibagi per wilayah. “Umpamanya, satu wilayah diisi oleh lima-enam kabupaten/kota. Kemudian, masing-masing mengadakan kejuaraan wilayah dimana masing-masing atlet akan bertemu. Katakanlah, bisa mencapai tiga putaran,” tuturnya.

Setelah didapat pemenang melalui sistem poin, para jawara wilayah ini akan kembali dipertandingkan dalam babak semifinal dengan sistem setengah kompetisi tadi. Hal itu akan terus berulang sampai didapat juara yang akan mewakili Sumsel. “Kalau direalisasikan, stok atlet tidak akan terputus. Kita tinggal mendata mereka yang menjadi peserta sirkuit tadi, jika dibutuhkan untuk terjun di kompetisi tingkat apapun,” ujarnya yang juga Ketua Harian Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) Sumsel periode 2012 – 2016 ini.

Ia menjamin jika atlet yang mengikuti sirkuit tadi benar-benar mumpuni, sebab mereka adalah atlet yang teruji melalui persaingan kompetisi yang sengit. “Berkaca dari sirkuit silat tahun lalu. Dengan adanya sirkuit itu tingkat kabupaten dan kota punya bibit stok potensial. Karena mereka memiliki pengalaman tanding yang ketat,” terangnya.

Tapi itu, tambahnya, harus didukung KONI Sumsel sebagai pemegang kebijakan dan jangan cuma ngomong Sumsel krisis atlet. ‘’Gubernur Sumsel sudah bagus namun ia kan memandang internasional. Harusnya bawahan inilah yang memikirkan hal tersebut, bagaimana yang di tingkat daerah ini bisa maju,” tegasnya lagi.

Berdasarkan rekam jejak lalu, Sumsel pernah mengadakan sirkuit pencak silat periode 2004 sampai 2012. Hasilnya, sederet nama seperti Ryan Sazali, Yessi dan nama-nama pendekar silat Sumsel yang berkiprah di tingkat nasional dilahirkan. “Kalau waktu itu kami mengadakan sirkuit tingkat regional, biaya yang dikeluarkan juga hanya Rp80 juta. Pihak KONI kalau memang ingin serius berbicara prestasi, harus menyiapkan anggaran dengan skala prioritas. Jangan hanya sekedar ngomong dibantu, tapi kenyataannya tidak,” pungkasnya. (korankito.com/Resha)