Anak-anak Lapas Ternyata Bangga Jadi Begal

Siswa SMAN di Palembang ditangkap polisi lantaran membawa senjata tajam.

Palembang-Penghuni Lapas Anak Pakjo didominasi oleh anak-anak yang terlibat kasus begal. Mirisnya, berdasarkan pengakuan, mereka bangga menjadi seorang begal.

 Berdasarkan data Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA) atau Lapas Anak Pakjo Kota Palembang, anak-anak yang menjadi binaan didominasi kasus kriminalitas. Kasus kriminalitas yang paling banyak dilakukan anak-anak binaan ini yakni kasus begal.

“Dari 160 penghuni LPKA ini, ternyata kasus yang paling banyak yaitu begal, tentu ini sangat menghawatirkan kita semua,” kata Kepala LKPA Pakjo Palembang, Endang Lintang usai audensi dengan Walikota Palembang, di rumah Dinas Tasik, Selasa (21/2).
Endang mengungkapkan, setelah melakukan pendekatan secara langsung dengan para binaan ini, ternyata didapatkan alasan bahwa   anak-anak tersebut terlibat kasus begal ini karena tren. Dengan menjadi begal, anak-anak ini dapat membanggakan diri kepada anak-anak lainnya.
“Ada juga alasan lainnya anak-anak ini melakukan begal karena faktor ekonomi. Rata-rata anak-anak ini berstatus siswa sekolah SMP dan SMA,” kata Endang.
Ia mengakui anak-anak yang terlibat kasus hukum di Sumsel secara nasional lebih tinggi tentu ini sangat menyedihkan. Namun agar anak-anak ini ketika keluar dari LPKA dapat menatap masa depan lebih baik maka pihaknya menerapkan pendidikan bagi setiap penghuni.
“Mereka sekolah seperti biasa, yang diajar oleh guru-guru dari luar, tentu dengan adanya pendidikan ini anak-anak ini akan menjadi lebih baik lagi dan dapat menempuh pendidikan yang lebih tinggi,” jelasnya.
Lantaran dana yang digelontorkan oleh pemerintah pusat bagi LPKA sangat kecil maka pihaknya melakukan MoU dengan Pemerintah Kota Palembang untuk membangun gedung sekolah di dalam LKPA yaitu pendidikan filial. Dengan adanya sarana prasarana pendidikan aktifitas belajar mengajar dapat berjalan dengan baik.
Walikota Palembang Harnojoyo menambahkan, pendidikan salah satu program prioritas yang dicanangkan karena alokasi untuk pendidikan dalam APBD melebihi dari undang-undang sebesar Rp38 persen.
“Kita sangat peduli dengan pendidikan karena anak-anak adalah massa depan bangsa. Jika pendidikan anak-anak baik maka baik juga bangsa ini,” jelasnya.
Pemerintah sangat mensupoort pendidikan filial dalam LPKA. Terlebih pendidikan menjadi tangungjawab pemerintah. Pendidikan yang ditempuh oleh penghuni lapas diharapkan membuat anak-anak menjadi lebih baik saat keluar dari lapas.korankito.com/ria