17 KK Liar Kuasai Makam Candi Angsoko

Kepala Dinas Kebudayaan Kota Palembang Sudirman Tegoeh

Palembang – Dinas Kebudayaan Kota Palembang mulai melakukan pendataan (inventarisasi) makam-makam yang memiliki sejarah dan merupakan peninggalan jaman kerajaan dan kesultanan yang ada di Kota Palembang. Dari beberapa kali pendataan yang dilakukan, Dinas Kebudayaan sudah menemukan enam makam bersejarah.

“Yang baru kita inventarisir itu ada enam. Tapi berkemungkinan Palembang memiliki hampir 20 makam bersejarah,” ungkap Kepala Dinas Kebudayaan Kota Palembang Sudirman Tegoeh, Selasa (21/2).

Ia menjelaskan, sebagai organisasi perangkat Daerah (OPD) yang baru saja berdiri, pihaknya mulai melakukan gerak cepat untuk melaksanakan program dinas yang sudah disusun diawal tahun. Termasuk melakukan inventarisir makam bersejarah yang ada di Palembang.

Pasalnya makam-makam merupakan aset sejarah milik Kota Palembang. Dimana makam-makam bersejarah tersebut menunjukkan serta membagi Kota Palembang dalam beberapa masa kejayaan seperti masa kerajaan, kesultanan dan pendirian Palembang Darussalam.

“Keenam makam yang sudah kita inventarisir yakni makam Kironggo Wirasantika, Ki Gede Ingsuro, makam Candi Angsoko, Makam Cinde Welan, makam Kramat Jaya, dan makam Mandi Alit di Charitas,” urainya.

Namun, dari beberapa makam yang sudah diinventarisir tersebut, jelas mantan Staff Ahli Bidang Ekbang dan Investasi Kota Palembang ini, diketahui ada beberapa makam bersejarah yang tidak diketahui lagi keberadaannya karena sudah beralih fungsi. Bahkan ada salah satu makam yakni makam Candi Angsoko yang ternyata dihuni 17 kepala keluarga (KK) yang tidak jelas.

“Seperti makam Kramat Jaya di wilayah 17 Ilir yang sudah beralih fungsi menjadi ruko dan makam Mandi Alit di Charitas yang sudah dijual oleh ahli waris keturunan. Sedangkan makam Candi Angsoko dikuasai 17 kk yang sampai detik ini tidak mau pindah dari area makam ,” jelasnya.

Untuk makam-makam yang sudah dilakukan inventarisir, dalam keadaan tidak terawat. Makam-makam tersebut tidak dirawat oleh para ahli waris sehingga terkesan tampak kotor.

“Makam-makam yang tidak terawat itu sudah kita bersihkan dengan melakukan gotong-royong bersama. Untuk perawatan makam akan kita upayakan kerjasama dengan BUMN dan BUMD melalui program CSR mereka. Seperti perawatan makam Ki Gede Ingsuro yang mendapatkan bantuan CSR dari PT Pusri untuk perawatan makam sebesar RP 150 juta,” ulasnya.

Lebih lanjut, dikatakannya, sebagai identitas Kota Palembang, makam-makam bersejarah ini perlu diperhatikan. Tanggung jawab bukan hanya pada pemerintah tapi juga dibutuhkan peran serta dari masyarakat.

“Kalau dibiarkan begitu saja, lama-lama Palembang tidak akan punya sejarah karena identitas yang menunjukkan sejarah Palembang sudah hilang,” imbuhnya.

Sedangkan untuk makam yang sudah beralih fungsi, lanjutnya, akan dikembalikan ke bentuk semula. Pihaknya akan melakukan berbagai usaha dengan melakukan pendekatan kepada pemilik baru agar mau mengembalikan makam yang telah beralih fungsi tersebut.

“Dengan terawatnya makam-makam bersejarah ini tentunya bisa dijadikan sebagai destinasi wisata ziarah yang dapat dikunjungi oleh wisatawan yamg datang ke Kota Palembang,” tukasnya. (korankito.com/ria)