Pemasangan Awning Pasar Lorong Basah Ditunda

Direktur Operasional PD Pasar Palembang Jaya Febrianto. Foto/Ria

Palembang – Pemasangan awning di lorong basah kawasan Pasar 16 Palembang ditunda, karena masih menunggu arahan Wali Kota Palembang Harnojoyo.

“Kira masih belum tahu kapan akan melakukan pemasangan awning itu,” ujar Direktur Operasional PD Pasar Palembang Jaya Febrianto, Minggu (19/2).

Ia menjelaskan, kisruh mengenai permasalahan pemasangan awning untuk pedagang di pasar lorong basah tersebut sudah diketahui oleh walikota Palembang. Karena itu pihaknya memutuskan menunda untuk pemasangan tersebut. “Beliau kan baru tahu dari media massa juga. Oleh karena itu beliau akan merapatkannya terlebih dahulu dengan instansi terkait apa yang harus dikaji ulang. Intinya kita masih tunggu arahan dari Wali Kota,” katanya.

Sementara itu, salah satu pedagang pasar Lorong Basah Rizal mengaku pada dasarnya para pedagang menyetujui pemasangan awning tersebut asalkan sesuai dengan kesepakatan bersama dan tidak memberatkan pedagang. Ia pun menjelaskan sampai saat ini belum ada kesepakatan mengenai biaya yang harus dikeluarkan pedagang untuk biaya pemasangan awning. “Kalau yang kami dengar biayanya sekitar Rp7 juta. Tapi itu belum tentu benar karena masih belum ada kata sepakat mengenai biaya pemasangan ini,” jelasnya.

Hanya saja, jelasnya, seandainya biaya pemasangan awning tersebut dibebankan kepada pedagang, nantinya tak ada lagi biaya yang harus dibebankan kepada pedagang seperti biaya sewa tahunan. “Kalau sekarang inikan, setelah bayar pembuatan awning, setiap tahunnya kami juga mesti membayar, jangan begitulah, kami ingin hanya satu kali pembayaran ini saja,” ungkapnya.

Rizal menambahkan, keresahan lain yang dialami para pedagang ialah, khawatir retribusi yang diterapkan akan naik, serta akan adanya penambahan pedagang baru. “Kami khawatir nanti posisi kami bakal diubah-ubah, kami tidak mau ada penambahan pedagang. Kalau sekarang ini, pedagang di lorong basah itu ada sekitar 400 pedagang. Retribusi juga jangan naik, kalau sekarang inikan Rp 9 ribu perharinya,” tukasnya. (korankito.com/ria)