Polda Sumsel Tangkap Dua Pengrajin Senpi Rakitan

TERSANGKA – Yulian Wahab (52) dan Maas (58) yang merupakan pengrajin senpi rakitan saat gelar perkara di Mapolda Sumsel. Foto/kardo

Palembang – Anggota dari Ditreskrimum Polda Sumsel berhasil mengungkap pembuatan senjata api rakitan produksi rumahan yang di gerebek di Banyuasin dan Prabumulih. Dari penangkapan tersebut, petugas berhasil mengamankan beberapa pucuk senpi hasil produksi berikut amunisi dan dua pengrajinnya.

Mereka yang ditangkap yakni Yulian Wahab (52) yang ditangkap di Jalan Jenderal Sudirman, Kelurahan Cambai, Prabumulih, Sumatera Selatan, Rabu (15/2), dengan barang bukti satu pucuk senpi rakitan laras panjang, dua pucuk pistol rakitan, 94 butir amunisi aktif, 160 butir proyektil, 14 butir amunisi jenis FN, 47 butir selongsong aktif, 223 butir selongsong bekas, bor duduk, dan pengait besi duduk.

Selanjutnya, petugas juga menangkap Maas (58) di Dusun Taja Mulia, Desa Telang Jaya, Kecamatan Betung Kabupaten Banyuasin dengan barang bukti yang diamankan berupa sepucuk pistol rakitan dan satu pucuk pistol rakitan setengah jadi, serta tiga butir amunisi.

Salah seorang tersangka, yakni tersangka Yulian mengaku, telah beberapa tahun lalu merakit senjata. Dan senjata yang diproduksinya dijual kepada pemesan berkisar Rp 15 juta sampai Rp 20 juta per pucuk.

“Sudah dua tahun pak produksi, harganya tergantung pesanan, ada yang panjang, pendek,” ungkap tersangka Yulian saat diamankan di Mapolda Sumsel, Kamis (16/2).

Tersangka yang dikenal sebagai master popor itu menuturkan, dirinya  dapat merakit senpi dikarenakan dirinya pernah menjadi anggota Perbakin Palembang. Namun, ia memutuskan untuk keluar karena tak sanggup membayar izin kepemilikan senpi.

“Keterampilan buat senpi ini saya dapat waktu saya aktif di Perbakin, sekarang sudah berhenti,” ujarnya.

Sementara itu, Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Sumsel Kombes Pol Prasetijo Utomo mengungkapkan, selain merakit senpi, tersangka Yulian juga diketahui biasa mendaur ulang amunisi sesuai permintaan pembeli. Namun, pihaknya masih mendalami lagi darimana tersangka mendapatkan ratusan butir amunisi tersebut.

“Salah satu tersangka dulu pernah ikut Perbakin, dan kini masih kita selidiki, darimana mereka mendapatkan amunisi. Ini urusan penyidik,” kata dia.

Atas perbuatannya, kedua tersangka dikenakan Undang-undang Darurat Nomor 12 Tahun 1951 tentang kepemilikan senjata ilegal.

Petugas juga masih menyisir lokasi-lokasi perakitan senpi yang diduga digunakan untuk kejahatan.

“Di Sumsel ini, ada beberapa daerah yang masih menjadi pusat pembuatan senpi ilegal, dan akan terus kita lidik,” pungkasnya. (korankito.com/kardo)