Bisa Dipercaya

Dishub Siapkan Halte Trans Musi Ramah Disabilitas

Palembang – Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Palembang akan meremajakan tempat pemberhentian (Halte) Bus Rapit Trasit (BRT) Transmusi. Hal ini diperlukan mengingat kondisi halte yang butuh peremajaan agar kondisi fisiknya tetap layak digunakan.

Sekretaris Dinas Perhubungan (Dishub) Palembang Agus Supriyanto mengatakan, saat ini pihaknya tengah melobi pihak CSR untuk proses peremajaan halte ini. “Konsep halte Trans Musi yang dulunya berbentuk seperti rumahan (tertutup) akan kita ubah. Jadi sekarang haltenya sudah terbuka tanpa ada dinding kaca,” ujarnya.

Berita Sejenis

Delapan ‘Teroris Jakfar’ Ditetapkan Tersangka

Juruparkir Cekoki Miras dan Perkosa Bocah SD

Kids Zaman Now Menguncangkan Dunia

1 daripada 3.081

Adapun untuk konsep Trans Musi yang ada saat ini awalnya menuruti yang ada di kota Jakarta. Namun setelah beberapa tahun, kondisi halte yang berbentuk rumah tersebut bukan solusi yang baik untuk dipertahankan. “Kita ketahui sendiri kondisinya sudah berubah. Kacah banyak pecah, pintu banyak rusak. Terkadang sudah kita perbaiki namun tetap saja masih dirusak. Kita tidak mungkin mengawasi selama 24 jam penuh setiap harinya,” jelasnya.

Menurutnya, keberadaan halte tertutup seperti saat ini memang tidak cocok untuk diterapkan di halte Palembang. Ia mencontohkan seperti Jakarta, untuk mesin tiket berada di halte. Maka itu wajar jika haltenya harus tertutup. “Sementara mesin tiket kita berada di dalam bus. Fungsinya sama saja untuk mengubah sistem tiket manual dan mempermudah penumpang untuk transit,” ungkap Agus.

Maka itu pihaknya berharap revitalisasi halte ini akan berjalan sesuai dengan konsep halte terbuka. Dimana pada bagian tengah trotoar masih bisa dilalui orang. Tak hanya itu, konsep halte terbuka ini diyakini lebih ramah kepada penyandang disabilitas. “Selain tangga, nanti ada juga tanjakan rendah yang bisa dilewati kursi roda. Kira-kira desain seperti itulah yang kita inginkan,” ungkapnya.

Sementara itu, ketua Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Sumsel, Prof. Erika Buchari mengatakan, pihaknya memang mengusulkan jika halte Trans Musi haruslah bisa memfasilitasi untuk penyandang disabilitas. “Selain itu, pembangunan halte juga harus memperhatikan ukuran bus. Masih ada halte yang dijumpai tingginya masih rendah dari pintu masuk bus. Jelas ini bisa berbahaya,” ujarnya.

Perlu diketahui, saat ini ada sekitar 275 halte Trans Musi dan belum termasuk yang portabel di kota Palembang. Sedangkan untuk halte transit ada 11 titik. Pantauan Sripo, beberapa halte yang berada di titik jalan protokol dan tempat transit masih menggunakan konsep halte tertutup. Sedangkan untuk rute yang jauh dari fasilitas umum sudah menggunakan konsep terbuka, bahkan ada yang hanya berupa tangga saja tanpa dilengkapi tempat duduk. (korankito.com/ria)