Maraknya Bisnis Hotel Di Lubuklinggau, Persaingan Makin Ketat

Hotel Smart Lubuklinggau. Foto/dhia

LUBUKLINGGAU – Pesatnya pertumbuhan ekonomi di Kota Sebiduk Semare sebagai kota jasa dan perdagangan yang unggul, mendorong berbagai sektor untuk turut berkembang. Tidak terkecuali bisnis perhotelan.

Persaingan antar hotel pun semakin ketat. Baik hotel berbintang maupun non Bintang berlomba menawarkan fasilitas dan pelayanan prima serta bernuansa khusus sesuai letaknya dengan harga terjangkau.

“Saat ini hotel di Lubuklinggau yang sudah bergabung dengan Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) ada 30 hotel. Hotel berbintang 1-5 ada 10 hotel, dan hotel non bintang ada 20 hotel dan masih banyak yang belum bergabung dengan PHRI Lubuklinggau,” kata ketua PHRI Lubuklinggau Andri Tansil.

Menurutnya, seiring dengan semakin banyaknya hotel sementara harga komoditi, pertanian dan karet semakin melemah akan berdampak kepada hotel. Maka, tidak menutup kemungkinan setiap hotel meningkatkan pelayanan dan fasilitas yang memuaskan. Apalagi nantinya, akan berdiri Hotel Sutan Raja dan Dafam.

“Yang kita sayangkan sekali itu, setiap hotel yang baru pasti memberikan harga yang sangat murah untuk menarik perhatian pengunjung agar memanfaatkan fasilitas hotelnya. Itu akan membuat tamu hotel yang lama semakin sepi. Kita boleh bersaing tetapi, bersaing dengan sehat jangan saling menjatuhkan,” jelasnya.

Menyadari hal itu, Andri pun mengutarakan beberapa solusi yang ditawarkan PHRI. Pertama masing-masing hotel diharapkan bisa meningkatkan pelayanan yang baik, fasilitas yang lengkap, promosi yang tepat dan terarah.

Kedua, mendorong dan bersama pemerintah daerah membenahi dan membangun potensi destinasi wisata, sebagai daya tarik wisatawan supaya bisa datang ke Lubuklinggau ini.

“Program pemerintah Kota Lubuklinggau “Ayo Ngelong ke Lubuklinggau” itu kita sangat setuju sekali. Sebab, itu akan berdampak positif terhadap hotel. Para pengunjung akan berdatangan dan akan memanfaatkan hotel sebagai penginapan,” ungkapnya

Lebih lanjut, ia mengimbau kepada seluruh pihak hotel agar memasang tarif sesuai kelasnya masing-masing. Jangan sampai hotel lain akan kena dampaknya. “Kalau dia bintang 3 sesuaikanlah tarif bintang 3 begitupun dengan bintang lainnya. Jangan sampai memasang tarif jauh lebih murah agar hotel kita bisa ramai. Itu sangat tidak boleh.Persaingan harus sehat,” paparnya.

Ia mengakui saat ini masih banyak hotel dan penginapan yang belum terpantau dan bergabung dengan PHRI. “saat kita akan mengadakan pertemuan dan kita undang malahan mereka tidak datang. Jadi, susah untuk memantaunya,” terangnya.(korankito.com/dhia)