Kereta Api Bukit Serelo Tabrak Warga di Perlintasan Tak Berpalang

Korban tabrak kereta api Bukit Serelo, Ahad (13/2). Foto/Denny

Palembang- Perlintasan kereta api tidak berpalang kembali memakan korban jiwa. Kali ini Safrudin alias Bodong (37) tewas dengan kondisi mengenaskan, usai ditabrak Kereta Api Bukit Serelo jurusan Palembang-Lubuklinggau, Minggu (12/2) sekitar pukul 10.00.
Bodong tertabrak kereta api tidak jauh dari rumahnya di Jalan Abi Kusno Cs, Kelurahan Kemang Agung, Kecamatan Kertapati, Palembang. Tubuh korban sempat terpental hingga 100 meter dari lokasi kejadian sedangkan sepeda motor yang dikendarainya masuk kedalam sungai.
Berdasarkan data yang dihimpun, kejadian naas merenggut nyawa Bodong berawal ketika korban bersama anaknya Keyla (6) dan istrinya Ida (26) hendak pergi ke rumah orangtua Bodong yang berada di kawasan Perumnas Talang Kelapa, Kecamatan Alang-alang Lebar, Palembang.
Namun, lantaran jalan yang menuju perlintasan rel kereta api sedikit menanjak, Bodong pun akhirnya memutuskan untuk berjalan terlebih dahulu bersama anaknya dengan mengendarai sepeda motor. Sedangkan, Ida menyusul keduanya dengan berjalan kaki.
Naasnya, ketika melintas di atas rel kereta api tersebut, datang sebuah kereta api yang baru saja berangkat dari Stasiun Kertapati dengan kecepatan tinggi yang langsung menyambar korban.
“Kereta api itu, berjalan dengan kecepatan tinggi dan tidak membunyikan klakson, sehingga menantu saya tidak mengetahui kalau ada kereta api yang datang,” ucap Ibu Mertua Korban Murdia (67) ketika ditemui di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) BARI Palembang.
Murdia menambahkan, sebelum tersambar kereta, menantunya itu sempat melempar anaknya yang diduduk di bagian depan dengan cara dilemparkan ke tepi jalanan. “Korban sempat mengangkat dan melempar anaknya ke tepi jalan. Sedangkan, dia tidak dapat menyelamatkan diri,” katanya.
Masih dikatakannya, korban sempat terseret sekitar 100 meter dari lokasi kejadian. “Korban juga sempat berteriak, dan hendak menyelamatkan diri. Namun, tidak sempat lagi, dan langsung tewas dengan terseret kereta api. Sepeda motornya juga jatuh ke Sungai Musi,” terang Murdia.
Sementara itu, istri korban Ida tidak kuasa menahan tangis. Menurutnya, ia tidak memiliki firasat apapun terhadap korban. “Tidak ada firasat apa-apa. Suami saya masih seperti biasa. Kami minta PT KAI bertanggung jawab atas kejadian ini,” tuturnya.
Kapolsek Kertapati AKP Deli Haris mengatakan, saat ini pihaknya masih melakukan penyelidikan guna memastikan penyebab kecelakaan itu. “Kita sudah melakukan olah TKP serta akan memeriksa sejumlah saksi dilapangan. Kita juga akan berkoordinasi dengan PT KAI,” ungkap Deli.
Humas PT Kereta Api Indonesia (KAI) Divre III Palembang Aida Suryanti membantah, kereta api tersebut melaju dengan kecepatan tinggi dan tidak menyalakan klakson saat melintasi pemukiman warga. “Semuanya sudah ada standard operating procedure (SOP), jadi tidak benar kalau kereta tersebut melaju dengan kecepatan tinggi dan tidak menyalakan klakson saat melawati perlintasan yang ada pemukiman warga,” katanya saat dihubungi melalui pesan singkat.
Menururnya, saat ini kejadian tersebut dalam penanganan pihak kepolisian. “Kejadian ini, sedang dalam penanganan pihak berwajib untuk proses lebih lanjutnya. Kita akan membantu dalam pengurusan administrasi agar korban mendapatkan asuransi jiwa,” tutupnya. (korankito.com/denny)