Bisa Dipercaya

Demam Berdarah Dengue Intai Palembang

Foto/ist
Palembang – Penderita demam berdarah dengue (DBD) di Kota Palembang hingga awal Februari 2017 tercatat ada 99 penderita, sedangkan tahun lalu kasus DBD mencapai 191 penderita serta ada dua kasus penderita DBD yang meninggal dunia.
“Alhamdulillah tahun ini tidak ada kasus meninggal dunia,” ucap Plt Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Palembang Letizia, Ahad (12/2).
Menurut Letizia, Pemerintah Kota (Pemkot) Palembang terus berupaya mengajak masyarakat untuk berperilaku hidup sehat.
Sementara itu Kepala Bidang Pengendalian dan Pencegahan Bencana Dinkes Palembang Fauziah mengatakan, upaya paling tepat untuk pencegahan DBD dengan konsep 3 M yang kita kenal selama ini, yaitu pertama menguras, kedua menutup dan ketiga mengubur. Namun saat ini M yang ketiga bukan lagi mengubur namun mendaur ulang. “Kalau dikubur itu ternyata tidak baik untuk lingkungan. Bahan-bahan tersebut, seperti botol plastik atau kaleng akan sulit terurai, butuh waktu ratusan tahun. Karena yang paling tepat mendaur ulang, paling tidak kita singkirkan dulu terlebih dahulu, dan jangan sampai air bisa tergenang lagi. Sedangkan fogging adalah tindakan terakhir, perlu perhitungan dan penelitian tepat, tidak boleh sembarangan,” jelasnya.
Dikatakan Fauziah, usia 7-12 tahun rentan terjangkit DBD, oleh sebab itu pihaknya melakukan road show ke sekolah-sekolah untuk bersosialisasi. Saat ini di sekolah-sekolah telah dibentuk juru pemantau jentik (jumantik) yang akan memantau lingkungan sekolah. “Mungkin pilihan pakaian anak-anak yang lebih terbuka, memakai celana pendek lebih mudah nyamuk mengigit di banding orang dewasa yang biasanya berpakaian lebih rapat dan tebal. Selain itu, anak-anak lebih aktif, bermain kemana-mana. Sekolah juga bisa jadi tempat berkembangnya nyamuk aedes aegypti, jenis nyamuk ini suka di air yang mengenang dan jernih. Kita akan terus perbanyak jumantik di sekolah-sekolah. Anak yang menjadi jumatik akan melaporkan ke guru UKS kalau ditemukan jentik-jentik, berikutnya guru akan melapor ke puskesmas, dan puskemas melaporkan kepada dinkes,” papar Fauziah.
Disebutkan Fauziah juga, daerah pemukiman  baru pun beresiko, sebab setelah diteliti daerah yang rata-rata perumahan yang belum berpenghuni penuh, ditemukan banyak barang-barang menyebabkan air tergenang, bekas adukan semen, drum, ember, botol, kaleng. “Tahun lalu daerah Sukarmi zona merah, tahun ini sudah kembali hijau. Sekarang daerah Borang yang zona merah. Kalau dilihat kedua daerah ini sama-sama banyak memiliki pemukiman baru setengah jadi,” tutupnya. (korankito.com/ria)