Bisa Dipercaya

Mau Jadi Polwan ,Tertipu Rp185 juta

Palembang – Maksud hati mempermudah anaknya masuk polisi wanita atau polwan dengan menyiapkan uang ‘pelicin’ ratusan juta rupiah. Namun, justru malah tertipu hingga uang Rp185 juta melayang.

Hal itu yang dialami Kartini (54), warga Jalan Way Hitam, Lorong Famili nomor 2, RT2/7, Kelurahan Siring Agung, Kecamatan Ilir Barat I. Ia harus gigit jari setelah ditipu oleh seorang wanita honorer. Saat ini anak korban, Oktavera (18) pun tak lulus menjadi polwan.

Berita Sejenis
1 daripada 3.098

Kartini memberikan uang itu kepada saudaranya M Eddy (47) sebagai uang pelicin Oktavera menjadi  Polwan. Uang itu kemudian diserahkan kepada seorang oknum honorer Polresta Palembang berinisial EZ (37). EZ sendiri berjanji bisa memasukkan Oktavera menjadi polwan dengan menyiapkan sejumlah uang.

Namun janji tersebut tidak dipenuhi EZ, bahkan uang korban pun tak bisa kembali. M Eddy pun melaporkan kejadian penipuan tersebut ke SPKT Polda Sumsel, Kamis (9/2).

Peristiwa tersebut bermula pada Senin 2 Mei 2016, saat M Eddy menemani Okta yang membuat Surat Keterangan Catatan Kepolisian (SKCK) dan berkas bebas narkoba di Polresta Palembang untuk kepentingan melamar Secaba Polwan 2016.

Kemudian EZ menghampiri Eddy dan Okta seraya menawarkan jasa untuk mengurus berkas tersebut dengan meminta uang sebesar Rp175.000. Karena terbujuk diurus cepat, Eddy pun menyerahkan uang tersebut kepada EZ.

Keesokan harinya, 3 Mei 2016 sekitar pukul 13.00, Eddy dan Okta menemui EZ di Ruangan Admin Reserse Polresta Palembang untuk menanyakan berkas yang telah diurus oleh EZ tersebut.

“Berkas-berkas sudah semua diserahkan kepada panitia iti, namun kurang satu rangkap. Dia minta tambahan uang Rp2 juta untuk mengurusnya lagi, saya kasih,” ujar Eddy.

Setelah Eddy menyerahkan uang itu, EZ membujuk Eddy untuk menyediakan uang pelicin Rp250 juta agar Okta bisa diterima masuk Secaba Polwan. Bahkan EZ berkata, bila Okta nantinya tidak diterima, uang korban akan dikembalikan 100 persen. “Untuk permulaan, EZ minta uang Rp40 juta untuk panitia. Saya kasih Rp40 juta itu lalu pulang,” lanjut Eddy.

Pada hari-hari berikutnya, EZ secara berkala meminta uang terus kepada Eddy dengan alasan untuk panitia. Pada 11 Mei 2016, EZ meminta Rp12 juta. EZ kembali meminta uang Rp28 juta pada 17 Mei 2016, dan yang terakhir, EZ meminta uang Rp105 juta pada 7 September 2016.

“Tapi setelah kami kasih uang itu, keponakan saya tidak diterima Secaba Polwan. Saya datangi lagi terlapor di Polresta. Dia bilang kalau nomor casis Oktavera digeser atau diganti nama orang lain. Saya minta uangnya lagi, tapi dengan banyak alasan EZ tidak mengembalikan uang itu,” jelasnya.

Saat melapor, Eddy pun menyertakan barang bukti berupa empat lembar kwitansi pembayaran serta tanda bukti penarikan dari Bank BRI Kantor Cabang Pusri.

Kapolresta Palembang Kombes Pol Wahyu Bintono Hari Bawono mengaku pihaknya akan mengecek apakah benar ada honorer tersebut yang bekerja di Polresta Palembang.

“Untuk proses hukum silakan dilanjutkan. Apabila terbukti apa yang dilaporkan tersebut, tentu akan diproses sesuai hukum yang berlaku,” tegasnya. (korankito.com/kardo)