UIN Raden Fatah Lepas Mahasiswa Peserta KKN

Salah seorang mahasiswi yang akan KKN bersiap naik bus yang akan membawanya ke lokasi KKN. foto/ejak

Palembang – Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Fatah Palembang menyerahterimakan 624 mahasiswanya untuk melaksanakan kuliah kerja nyata (KKN) tematik posdaya berbasis Asset Based Community Development (ABCD) angkatan 67 tahun 2017 ke Pemerintah Kota Palembang.
Mahasiswa yang melaksanakan KKN ini adalah mahasiswa semester VII dari seluruh fakultas di UIN Raden Fatah Palembang. Selain itu, KKN ini juga merupakan syarat bagi mahasiswa untuk bisa wisuda, sebab setelah melaksanakan KKN mereka akan mendapat sertifikat yang menandakan mereka lulus dan telah mengikuti KKN.

Wakil Rektor III UIN Raden Fatah Palembang Rina Antasari menyebutkan, di Banyuasin juga ada 1.296 mahasiswa yang langsung dilepas oleh rektor untuk KKN. Dan hari ini, Rabu (08/02) pihaknya juga melepas 624 mahasiswa untuk KKN di Palembang.

“Banyuasin kemarin sudah diantarkan ke sembilan kecamatan. Hari ini di Palembang kita antarkan untuk 13 kecamatan selama 45 hari,” ujarnya seusai melepas mahasiswa KKN angkatan 67 tahun 2017 di gedung academic center UIN Raden Fatah Palembang, Rabu (08/02).

Pihaknya berharap, mahasiswa yang melaksanakan KKN dapat mengaplikasikan ilmunya serta membaca situasi di daerah. “Kami juga berharap kegiatan ini sebagai acuan penelitian untuk melihat potensi di daerah tersebut,” tambahnya.
KKN tahun ini berbeda dari tahun sebelumnya dengan mengusung tematik posdaya ABCD. Diakuinya, kalau mahasiswa itu secara umum pasti banyak mendapatkan pembelajaran di tengah-tengah masyarakat dan kalaupun ada satu atau dua orang yang tidak sukses dalam KKN-nya maka itu kesalahan individunya.

“Ilmu di masyarakat itu tidak bisa didapatkan di bangku kuliah. Maunya kami mereka dapat menyerap ilmunya bukan sekedar KKN saja. Sebelumnya hanya tematik saja, dan setiap KKN kami akan mengeluarkan inovasi terbaru dalam pelaksanaannya,” ujarnya.

Sementara itu, Rektor UIN Raden Fatah Palembang Sirozi menambahkan,  pihaknya masih melaksanakan KKN sebab melalui KKN ini dapat memetakan apa yang menjadi potensi di daerah.

“KKN ini sampai saat ini dari Kemenristek-Dikti maupun Kemenag masih merupakan otoritas universitas, dan ini dianggap penting. Sebab KKN ini berbeda dengan PPL atau praktikum yang dilakukan untuk melatih calon sarjana melakoni profesi sesuai bidang keilmuannya. Sedangkan KKN ini ruang lingkupnya lebih luas, karena kesempatan untuk melatih seorang calon sarjana bagaimana bisa eksis, berperan, bersikap, berkomunikasi dan beradaptasi di masyarakat luas,” tambahya.korankito.com/ejak