Plt Sekda Sumsel: Rupiah Merupakan Salah Satu Simbol Kedaulatan Negara

Acara Silaturahmi dan dialog interaktif Kepala BI Wilayah VII Palembang bersama Ulama dan Ormas Islam se – Sumsel (6/2). Foto/hms

Palembang – Bank Indonesia (BI) secara resmi menerbitkan sebelas pecahan uang rupiah tahun 2016. Uang tersebut terdiri atas uang kertas pecahan Rp 100 ribu, Rp 50 ribu, Rp 20 ribu, Rp 10 ribu, Rp 5.000 ribu, Rp 2.000 ribu dan 1.000 serta uang logam pecahan Rp 1.000, Rp 500, Rp 200 dan Rp 100.

Penerbitan uang dilakukan dengan tujuan memberikan ciri atau keseragaman uang rupiah khususnya dalam bentuk kertas.

Untuk mensosialisasikan uang emisi 2016, dilakukan silaturahmi dan dialog interaktif Kepala BI Wilayah VII Palembang bersama Ulama dan Ormas Islam se- Sumsel dengan tema Sosialisasi Uang Rupiah Baru Emisi 2016 di Ballroom Hotel Daira Palembang, Senin (6/2).

Hadir pada kesempatan ini, Pelaksana Tugas (Plt) Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi Sumsel, Joko Imam Sentosa, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumsel, Prof KH Aflatun Muchtar, Ketua Dewan Pertimbangan MUI Sumsel, Dr KH Burlian Abdullah, Kepala Divisi BI, M Seto Pranoto dan Ketua Pelaksana Yogi Vitagora.

Dalam sambutanya, Plt Sekda Provinsi Sumsel, Joko Imam Sentosa mengatakan, berdasarkan Undang-undang Nomor 7 Tahun 2011 tentang Mata Uang, Rupiah adalah satu-satunya alat pembayaran yang sah di wilayah NKRI.

“Rupiah merupakan salah satu simbol kedaulatan negara yang wajib dihormati dan dibanggakan oleh seluruh warga negara Indonesia,” ujarnya.

Sebagai warga negara Indonesia, kata Joko, sudah menjadi kewajiban untuk menggunakan uang rupiah tersebut. Baik dalam setiap transaksi di wilayah NKRI termasuk di daerah terpencil dan daerah terluar Indonesia.

“Setiap kali ada emisi baru atau ada uang rupiah baru, itukan salah satunya untuk supaya menukar uang-uang yang sudah beredar, baik itu uang yang sudah kusut atau lainnya,”katanya.

Dalam kesempatan itu Joko menuturkan, kegiatan ini dilakukan supaya masyarakat tau jangan nanti masyarakat kaget. Bahkan tanggal 18 nanti melalui satu media namanya Wayangan akan dilakukan sosialisasi kepada masyarakat secara umum dan ini dilakukan secara terus menurus.

“Pasti setiap ada emisi uang baru akan  disosialisasikan baik di koran, media dan lainnya dalam rangka masyarakat mengenal,”katanya.

Kegiatan seperti ini, menurut Joko, bagus apalagi ini sebuah ormas islam dan terdiri dari pada cendikia atau orang yang peduli situasi kemasyarakatan dan mereka merasa perlu disosialisasikan. Jadi ini suatu suasana dan silaturahmi yang baik sekali.

Sementara itu, Ketua Pelaksana Kegiatan Yogi Pitagora mengatakan, kegiatan ini suatu ajang silaturahim antara pemerintah, BI, ulama dan ormas se- Sumsel.

“Bahwa kita ingin mengetahui dasar maupun kebijakan Indonesia dalam menerbitkan uang rupiah baru emisi 2016,”lanjutnya.

Dia mengharapkan, “semoga dari penjelasan yang disampaikan pihak BI. Kita semua dapat menerima dengan baik kehadiran uang tersebut ditengah masyarakat dan tumbuh didalam diri kita sebagai gerakan cinta rupiah,”tuturnya. (korankito.com/hms/***)