Bisa Dipercaya

Saksi danTerdakwa Suap Ijon Proyek Banyuasin Saling Bantah

Dua saksi kasus suap ijon proyek di Banyuasin memberikan kesaksian di persidangan, Kamis (2/2).foto/ria

 

Palembang – Jaksa Penuntut Umum KPK menghadirkan dua saksi untuk tiga terdakwa kasus suap Banyuasin yang melibatkan Bupati Banyuasin non aktif Yan Anton Ferdian, Kadis Pendidikan Banyuasin Umar Usman dan Kasie Pembangunan Dinas Pendidikan Sutaryo, di Pengadilan Tipikor Palembang, Kamis (2/2).

Dua saksi yang dihadirkan customer service Bank Sumsel Babel (BSB) Cabang Sako Kenten Sapta Oktaviani dan PLT Kadis Pendidikan Banyuasin Sopran Nurozi.

Berita Sejenis

SMKN 2 Palembang Bidik World Class

Dzhalilov Targetkan Top Skor Bersama SFC

Terduga Teroris ‘Jakfar’ Dikenal Tertutup di…

1 daripada 3.067

Dalam kesaksiannya, karyawanBSB Cabang Sako Kenten Sapta Oktaviani menuturkan, Zulfikar lebih dari dua kali mencairkan dana masalah proyek di BSB. “Itu pencairan deposito. Pada 31 Agustus 2016, mencairkan Rp2 miliar lebih. Rp1.080 miliar ditarik tunai dan sisanya dimasukan ke rekening Zulfikar ,” ungkapnya.

Karena saldo kas banknya tidak ada, penarikan yang dilakukan Asmuin sebesar Rp1 miliar pernah diarahkan ke BSB A Rivai. Namun, seperti biasa, terlebih dahulu Zulfikar melakukan konfirmasi saat akan melakukan penarikan uang secara tunai.

Sementara itu saksi Sopran Nurozi menuturkan, ia pernah mendapatkan uang Rp100 juta dari Merki Bakri yang saat itu menjabat Kadis Pendidikan Banyuasin untuk melanjutkan kuliah S3. “Sebenarnya mau dikembalikan, tetapi kata Sutaryo jangan nanti ribut. Untuk masalah lelang, Sutaryo diperintahkan kepala dinas untuk mengurusnya. Lelang tidak pernah diumumkan ke publik, karena sudah ditunjuk berdasarkan perintah,” katanya.

Mendengarkan keterangan Sopran, terdakwa Sutaryo pun membantah semua keterangan yang diberikan Sopran di muka persidangan sebelumnya. Sutaryo menjelaskan  keterangan yang diberikan Sopran tidak benar.

“Saya tidak pernah melarang Sopran saat hendak mengembalikan uang kepada Merki Bakri,” katanya.

Selain itu, tidak ada pengaturan masalah lelang yang dilakukan dan mengarahkan Sopran untuk mengikuti perintahnya. Tak hanya itu, tidak ada keterlibatannya mengatur PPK untuk memenangkan proyek untuk orang-orang yang telah ditunjuk. “Semuanya tidak benar,” kata Sutaryo.

Meski, keterangan yang diberikannya dibantah Sutaryo. Kepada majelis hakim Sopran  tetap pada keterangan yang diberikan di muka persidangan. Sedangkan Yan Anton dan Umar Usman sama sekali tidak membantah keterangan yang diberikan Sopran.(korankito.com/ria)