1600 Pelajar Sumsel Ikuti Seleksi Bimbingan Kemas UI

TOSKA : Sejumlah siswa tengah mengerjakan jawaban soal dalam seleksi untuk ikut bimbingan khusus kemas UI , di Palembang, Ahad (29/1). Foto/ Eja

Palembang – Sebanyak 1.600 siswa SMA terbaik dari Kota Palembang, Kabupaten OKI, OI dan Banyuasin diseleksi untuk mengikuti bimbingan khusus Keluarga Mahasiswa Sriwijaya (Kemas) Universitas Indonesia di Palembang, Ahad (29/1).

Ribuan peserta tersebut terdiri dari jurusan IPA sebanyak 1.100 siswa dan jurusan IPS 500 siswa yang berasal dari 43 sekolah.

Menurut Ketua Pelaksana Jordy Muhammad, dalam seleksi itu akan dijaring 100 siswa terdiri dari 50 siswa jurusan IPA dan sebagian lagi IPS yang akan diikutkan dalam bimbingan masuk UI lewat try out, try out online, sosialisasi dan bedah kampus (Toska) 2017. Nantinya, papar Jordy, mereka diwajibkan mengisi 70 soal sesuai jurusan dalam waktu dua jam.

Jordy mengaku, ini merupakan kali pertama pihaknya mengadakan bimbingan khusus kepada 100 pelajar terbaik, meski Toska sendiri sudah berjalan sejak 2009 silam. “Bimbingannya itu kita beri nama program ‘adik asuh’ dimana satu mahasiswa akan membimbing dua orang pelajar melalui media sosial,” terangnya.

Menurutnya, dipilihnya media sosial sebagai sarana bimbingan khusus nantinya ialah karena saat ini memang media sosial tengah digandrungi oleh kaula muda, belum lagi anggota Kemas sendiri masih ada yang sedang kuliah dan praktik di lapangan yang menyebar di seluruh Indonesia. “Ya kalau tatap muka itu rasanya masih agak sulit, karena anggota Kemas sendiri juga masih ada yang praktik lapangan, kuliah dan tersebar diberbagai daerah. Jadi kita pilih media sosial sebagai sarananya agar lebih cepat dan mudah,” tambah mahasiswa jurusan vokasi akuntansi UI semester IV ini.

Sementara itu, salah seorang peserta Toska berasal dari SMAN 8 Palembang Fitria mengungkapkan, tingkat kesulitan soalnya sangat tinggi, jadi dirinya terpaksa mengerjakan soal yang dianggapnya lebih mudah dulu. “Soalnya maut kak, baru kali ini bahas soal dengan tingkat kesulitasn seperti ini,” ungkap siswa yang bercita-cita jadi dokter gigi ini.

Selain itu, ia mengaku tidak patah semangat untuk dapat masuk ke UI meski dengan tingkat kesulitan yang sangat tinggi. “Saya juga les tambahan selain yang diberikan oleh sekolah,” pungkasnya. (korankito.com/eja)