MTI Canangkan Program Seribu Biopori

Palembang – Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) menggelar program pencanangan penanaman satu juta biopori di seluruh wilayah di Sumsel. Sebanyak 14 biopori dibuat di kawasan Jalan Residen Abdul Rozak dimana melalui program MTI nantinya akan membuat 1000 biopori di seluruh wilayah di Sumsel.

Walikota Palembang yang diwakii Staf Ahli Bidang Pensosmas Rubinsi mengatakan, pihaknya memberikan apresiasi kepada MTI Sumsel telah membantu pemerintah dalam meminimalisir banjir di kota Palembang.

“Pemkot Palembang sangat mengapresiasi dengan apa yang telah dilakukan oleh MTI Sumsel ini,” ungkapnya, Kamis (26/1).

Sementara itu Ketua MTI Wilayah Sumatera Selatan Erika Bukhari mengatakan, teknik penanaman biopori ini sangat bermanfaat untuk menanggulangi banjir. Teknik penanamannya dilakukan dengan cara melobangi tanah dan memasukkan dedaunan kering di dalamnya, dengan tujuan, agar cacing dan hewan yang ada di dalam perut bumi keluar dan memakan daun tersebut, sehingga menciptakan lobang-lobang di perut bumi.

“Dengan demikian, saat hujan datang, air tidak menggenang di permukaan tanah, namun masuk ke dalam tanah melalui lubang-lubang yang dibuat oleh cacing dan binatang di dalam tanah,” jelasnya.

Erika berharap, ada dukungan pemerintah agar mau membantu untuk terealisasinya pembuatan 1000 lubang biopori tersebut. Karena manfaat dari biopori ini sangat bagus untuk mengurangi genangan air yang berpotensi menjadi banjir.

Erika menjelaskan, dipilihnya kawasan Jalan Abdul Rozak sebagai tempat pencanangan pembuatan biopori ini karena selain dekat dengan kawasan MTI wilayah Sumsel, kawasan Jalan itu juga merupakan daerah yang paling dalam titik genangan airnya.

Ia berharap pemerintah maupun masyarakat mau menyumbangkan mesin penggali tanah agar ia dan timnya lebih mudah untuk melobangi tanah yang akan dibuat biopori.

“Kalau sekarang masih menggunakan alat manual. Kalau sudah ada alat, mudah untuk membuat lobang dan kita tinggal memasukkan sampah daun keringnya. Alatnya tidak terlalu mahal, sekitar Rp 200 ribu per unit,” katanya.

‎Tak hanya timnya dan pemerintah yang bisa melakukan program ini. Namun, masyarakat pun bisa membuat biopori, karena memang teknik yang dilakukan tidak begitu sulit.

“Masyarakat ini kadang masih tak peduli dengan banjir, karena menganggap masalah banjir itu sudah ada yang mengurusi. Tapi kalau banjirnya sudah satu meter, ribut semua. Jadi kita sama-sama melaksanakan program ini,” tegasnya. (korankito.com/ria)